Kisah 2 Pengusaha Muda Sukses

Share this :

Sempat Terlilit Hutang Ratusan Juta Rupiah di Usia Belasan

 

Di balik setiap kesuksesan pasti ada cerita tentang sebuah perjuangan. Dua pemuda pemilik salah satu produk UKM sukses yang ada di Kota Kediri ini salah satu pemilik cerita tersebut. Di usia mereka yang baru menginjak angka belasan tahun, mereka telah memiliki 600 reseller yang tersebar di seluruh Indonesia dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah tiap bulannya. Namun di balik kesuksesan tersebut, ada cerita panjang, mulai dari terlilit hutang ratusan juta rupiah hingga terpaksa tak melanjutkan kuliah.

            Tak ada yang istimewa ketika memasuki rumah milik Bagas Alimpad Panggrahita Purwateksa, satu dari pemuda tersebut, yang terletak di Jalan Balekambang Kelurahan Blabak. Tak ada tanda-tanda jika di dalam rumah itu ada bisnis beromzet puluhan juta yang tengah berjalan. Tak ada papan nama atau spanduk yang bertuliskan bahwa rumah itu adalah tempat produksi dari FCK Jamur, salah satu produk UKM sukses di Kota Kediri.

Namun begitu masuk, di ruang tengahnya terdapat tumpukan kardus-kardus yang berisi jamur krispi produksinya yang sudah siap antar. Bukan diantar ke pembeli, namun ke para reseller-nya. “Sudah nggak pernah mengantar ke pembeli. Semua diantar ke reseller. Biar mereka yang memasarkan,” kata Bagas, sapaan akrab pemuda yang baru berusia 19 tahun itu.

Di salah satu sudut ruangan tersebut, seorang pemuda mengenakan baju koko dan sarung duduk di hadapan laptop sambil membaca Alquran kecil di tangannya. Pemuda itu adalah pemuda kedua, Achmad Fikri Arifizzaman, yang baru berusia 18 tahun. Segera setelah dia menyelesaikan bacaan Alqurannya, dia bergabung dengan Bagas di ruang tamu. Sambil sesekali mengamati proses pengepakan produknya, dua pemuda ini mulai berkisah. Mengenang masa-masa sulit mereka sebelum usaha yang mereka geluti ini sesukses sekarang.

Bagas pertama kali mengenal dunia bisnis adalah ketika usianya masih 15 tahun. Ketika masuk SMA, dia mengenal bisnis MLM (Multi Level Marketing). Lewat MLM, dia belajar banyak hal tentang bisnis. Termasuk tentang bagaimana caranya bisa menjual barang yang nilai sebenarnya hanya ratusan ribu rupiah, menjadi barang bernilai jutaan rupiah. Selain itu, dia juga diajari bagaimana cara merekrut orang lain agar mau bergabung dengannya, agar untung yang dia peroleh bisa lebih banyak.

Karena pada dasarnya dia memang berbakat di dunia bisnis, hanya dalam hitungan bulan, omzet yang dia peroleh setiap bulannya sudah mencapai jutaan rupiah. Hal tersebut terus berlanjut hingga dia naik kelas XI. Di usianya yang ke-16, dia sudah memiliki mengantongi tabungan sebesar Rp 30 juta. “Banyak kan? Tapi karena itu saya jadi serakah dan melakukan kebodohan yang saya sesali sampai sekarang,” tutur Bagas.

Kebodohan itu adalah mengikuti money game lewat online. Dia hanya tinggal memasukkan sejumlah uang ke dalam rekening yang tertera di website tersebut, dan setiap minggunya dia mendapatkan uang 30 persen dari jumlah yang dia setorkan ke sana. “Saya memasukkan uang sebesar Rp 30 juta. Dari uang itu setiap minggu saya terima uang sebesar Rp 9 juta. Jadi dalam satu bulan, saya sudah terima Rp 36 juta. Nggak masuk akal kan? Tapi masuk rekening,” ujarnya.

Tak hanya memasukkan uangnya sendiri, dia juga merekrut 4 orang lain untuk memasukkan uang ke dalam money game melalui dirinya, dengan jumlah yang sama, yakni Rp 30 juta. Total dari uang yang dimasukkan ke dalam money game tersebut dari orang-orang yang dia rekrut adalah Rp 110 juta. Dan enaknya, setiap minggu dia menerima 10 persen dari Rp 110 juta. “Tanpa melakukan apapun. Saya hanya duduk diam, dan setiap minggu saya dapat uang. Nggak masuk akal. Tapi masuk rekening,” katanya sambil tertawa.

Namun yang namanya uang tanpa berkah akhirnya mengantarkan musibah juga. Suatu hari, beberapa bulan setelah menikmati kejayaan dari uang yang dia peroleh tanpa kerja keras tersebut, website money game itu tiba-tiba ditutup. Tak bisa dilacak karena memang tidak jelas siapa pemiliknya. Rekening yang biasa dia kirimi uang itu juga tiba-tiba tak bisa dilacak. “Paniklah saya. Keadaan saat itu, uang saya di sana semua, termasuk uang dari orang-orang yang saya rekrut. Mereka tentu saja tidak mau tahu. Mereka ingin saya mengganti uang mereka. Jadilah saya, anak SMA berusia 17 tahun, mau UN, punya hutang Rp 110 juta,” kenang Bagas.

Ternyata, Bagas tidak sendiri. Dia bertemu dengan Achmad Fikri yang ternyata juga mengalami nasib yang sama. Di usia Achmad yang baru 16 tahun, dia mempunyai hutang sebesar Rp 60 juta karena masalah yang sama. “Bergabunglah kami berdua. Memutar otak bagaimana caranya mengganti uang sebanyak itu dalam waktu singkat,” kata Achmad.

Bermodal nekat dan uang terakhir mereka, akhirnya mereka mendirikan FCK Jamur ini. Jamurnya dia beli dari saudara Bagas yang sedang kesulitan menjual jamur. Yang memasak adalah ibu Bagas, dan pemasarannya lewat media sosial. “Pertama lewat BBM. Dari 500 sekian teman BBM yang saya tawari menjadi reseller, hanya ada 10 yang bersedia. Tapi siapa sangka, dari 10 itu sekarang menjadi 600,” kenang Achmad.

Berkat usaha dan kegigihan mereka mempromosikan dan memperbaiki produk mereka, mulai dari rasa hingga kemasan, dalam waktu kurang dari 1 tahun hutang-hutang mereka pun bisa terlunasi. “Karena itu pula kami jadi terinspirasi untuk membuka lapangan pekerjaan khusus bagi anak-anak SMA, agar mereka tidak terjerat dalam masalah yang sama dengan kami. Ingin punya uang banyak, tapi pakai jalan pintas, dan akhirnya malah terjerat hutang,” pungkas Achmad. (della cahaya praditasari)