Kerugian Kebakaran Pasar Pon Trenggalek Bertambah Rp 3 Miliar

Share this :

Trenggalek, koranmemo.com – Tafsir kerugian akibat kebakaran yang terjadi di Pasar Pon Kabupaten Trenggalek terus bertambah. Kondisi ini terlihat dari banyaknya pedagang yang mengadu ke posko pengaduan yang disediakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek.

Hingga saat ini, tafsir kerugian akibat kebakaran di pasar seluas 1,2 hektare itu mencapai lebih dari Rp 69 miliar. Sementara untuk pedagang yang mengadu di posko sejauh ini sudah terkonfirmasi hingga 460 orang.

Tri Admono, PLT Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Trenggalek mengatakan, jumlah tafsir kerugian itu diperkirakan akan terus bertambah. Sebelumnya, Minggu (26/8) pihaknya mencatat terdapat sebanyak 424 orang sudah mengadu dengan tafsir kerugian mencapai lebih dari Rp 66 miliar. “Ini tadi laporan perhari ini diambil sekitar pukul 12.00 WIB. Untuk yang data pengaduan setelah pukul 12.00 WIB belum kami rekapitulasi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (27/8).

Jumlah kerugian pedagang yang mengadu di posko pengaduan itu bervariasi, mulai puluhan juta hingga ratusan juta rupiah. Sejauh ini pihaknya mengaku masih mendata seluruh pedagang yang terdampak sekaligus menafsir kerugian yang diderita. Acuan data itu digunakan untuk landasan rekolasi yang saat ini masih dalam proses pengerjaan. “Secepatnya. Tadi pengukuran lokasi dan penghitungan kios dan lapak. Jangan sampai yang belum daftar terlewatkan,” jelasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, setidaknya ada sekitar 703 bangunan yang terdiri dari kios, los, dan lapak hangus terbakar. Jumlah itu terdiri dari 633 los dan lapak serta 70 kios. Nantinya untuk  jatah kios, pria yang juga menjabat sebagai Kabag Protokol dan Rumah Tangga Pemkab Trenggalek itu akan menyesuaikan dengan jumlah yang ada. “Yang 703 kami penuhi dulu. Untuk ukuran 3×3 meter, ada yang 2×3 meter, 3×4 meter,” pungkasnya.

Sembari menunggu proses relokasi berlangsung, sejumlah padagang terlihat sudah mulai berjualan dengan perlengkapan seadanya atau ‘dadakan’. Mayoritas dari mereka menggelar dagangan dipinggir jalan raya di sebelah bangunan pasar yang terbakar. “Kalau tidak berjualan nanti mau makan apa. Semua barang dagangan milik saya sudah ludes terbakar,” ujar Jiah, pedagang yang mengaku sudah mulai berjualan di pasar tersebut sejak tahun 1986.

Jiah mengaku, meskipun jualan dadakan ini tidak selaku dibandingkan di saat berjualan di dalam pasar, namun dia mengaku bersyukur setidaknya dapat mencukupi kebutuhan ekonomi, meskipun barang yang dijual merupakan dagangan pinjaman. “Dulu perbandingannya kalau di dalam bisa berjualan hingga Rp 500 ribu. Boro-boro disini, sudah panas, dapat Rp 50 ribupun sudah untung,” ujar pedagang buah yang memiliki lima kios tersebut.

Dia berharap proses relokasi pasar tersebut segera rampung sehingga dia bisa segera berjualan kembali seperti sebelumnya. Jiah mengaku, seluruh barang dagangannya ludes terbakar. Padahal saat itu dia sudah menyetok barang dagangannya hingga puluhan peti dan menyimpan uang puluhan juta di dalam kiosnya.

“Ada sekitar 3 gudang yang isi (buah,red) semua. Sebab saat itu saya pas nyetok buah. Tahu-tahu saat pulang ke rumah saya mendapat kabar itu (kebakaran,red). Dengan hanya mengenakan daster saya langsung ke sini (pasar,red). Namun sayang semuanya tidak tertolong,” kata Jiah.

Senada diungkapkan Widiarti pedagang kain di pasar yang rencananya akan direvitalisasi itu. Perempuan yang memiliki 10 kios itu mengaku menanggung kerugian sebesar hampir Rp 700 juta akibat kebakaran itu. Dia mengaku tak mampu berbuat banyak lantaran pada saat kejadian dia sedang berada di rumah. “Saya kesini dengan pakaian seadanya dan hanya mengenakan daster dan jaket sekitar pukul 01.00 WIB saya kesini (pasar,red). Apa daya, semua sudah ludes dilalap api,” ujar pedagang asal Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek itu.

Baik Jiah dan Widiarti serta beberapa pedagang lainnya berharap ada kompensasi ataupun bantuan pemerintah sebagai modal untuk merintis usaha mereka lagi. Pasalnya mayoritas pedagang tersebut menggantungkan hidupnya mengaiz rezeki di pasar yang terletak di jantung kota tersebut. “Kami berharap minimal ada bantuan modal usaha,” saut Jiah diamini beberapa pedagang lainnya yang berjualan ‘dadakan’ pasca tempat berjualan mereka terbakar, Sabtu (24/8) dini hari.

Reporter Angga Prasetya
Editor Achmad Saichu