Kenalkan Dunia Robotika Lewat Robot Sikat Gigi

Share this :

Pendiri Komunitas Kediri Robotika

Ingin mengubah mindset anak-anak tentang robot yang terkesan mahal dan sulit, Bambang Dwi Setiawan mendirikan ekstrakurikuler di sekolah tempat dia mengajar, SD Plus Rahmat, yang diberi nama Robo Rahmat. Tak puas hanya mengajar anak didiknya saja, 4 bulan yang lalu Bambang mendirikan Komunitas Kediri Robotika. Anggotanya seluruh siswa SD dan SMP yang ada di Kota Kediri.

            Bambang mengenal dunia robotika baru sekitar 4 tahun belakangan. Sebelumnya, meskipun dia adalah lulusan Universitas Muhammadiyah Malang dari jurusan elektro, namun dia sama sekali tidak pernah menyentuh dunia robot. Setelah dia mengajar di SD Plus Rahmat, di tahun 2012 dia mendapat undangan untuk mengikuti workshop robotika di tempat dia kuliah dulu. Dari workshop singkat selama 3 hari tersebut, dia jatuh cinta pada dunia robotika.

Alasan yang utama mengapa dia tertarik adalah karena dia merasa tertantang. Selama ini, dia melihat banyak orang terutama anak-anak menganggap robot itu mahal dan sulit. Padahal, setelah mengikuti workshop, dia jadi tahu kalau robot itu ternyata tidak seperti anggapan orang-orang selama ini. “Membuat robot itu ternyata sederhana, tak memerlukan biaya banyak dan menyenangkan. Karena itu saya ingin agar anak-anak di Kediri juga tertarik untuk membuat robot, daripada membuang-buang waktu mereka untuk hal yang tidak perlu,” tutur Bambang.

Menarik minat anak-anak untuk masuk ekstrakurikuler robot tentu saja tidak mudah. Bahkan jika mereka berminat sekalipun, menumbuhkan keberanian anak untuk mencoba berkreasi dengan robot pun juga butuh waktu. Namun pria kelahiran 24 Mei 1981 ini punya cara tersendiri. Dia membuat robot sikat gigi bekas.

Alat-alatnya sangat sederhana. Pertama, sikat gigi bekas. Kedua, vibrator telepon genggam yang bisa didapat di pasar loak, dan baterai jam tangan. Hanya dengan 3 benda itu, dia berhasil membuat robot sikat gigi yang bergerak di lantai tanpa perlu digerakkan secara manual oleh manusia. “Ketika anak-anak sudah berkumpul untuk melihat robot itu bergerak-gerak, saya bilang ke mereka, kalau mereka pun juga bisa membuat robot yang sama. Dan kalau sudah jadi, bisa untuk menyikat kamar mandi dengan mudah,” cerita laki-laki yang telah dikaruniai 2 anak ini.

Sejak saat itu, lambat laun semakin banyak siswa yang bergabung dalam Robo Rahmat ini. Dengan dibimbing oleh Bambang, mereka sering mengikuti perlombaan robotika, mulai dari tingkat kota, provinsi, nasional, bahkan sampai Internasional. “Saya bersama anak didik saya pernah mengikuti lomba robotika IISRO di Malaysia dan mendapat juara 2 di kategori maze solving,” kata Bambang.

Lalu ada lagi lomba yang berkesan baginya, yakni lomba robot teater di Pahrayangan, Bandung. Menurutnya, itu adalah lomba tersulit yang pernah dia ikuti. Lomba robot teater itu merupakan lomba yang memadukan antara robot dan manusia hingga membentuk suatu cerita. Saat itu dia mengangkat cerita tentang meletusnya Gunung Kelud.

Untuk mengikuti lomba tersebut, dia dan anak-anak yang terpilih membuat replika Gunung Kelud dengan soda yang diberi pewarna merah sebagai laharnya. Robot yang digunakan adalah jenis robot transporter dan maze solving. Robot transporter untuk memindahkan pohon dan batu-batu replika, sedangkan robot maze solving difungsikan sebagai ambulans yang berputar-putar untuk mengangkut korban, dan dikirim ke Puskesmas. Sedangkan manusianya, yakni anak-anak itu sendiri, berperan sebagai tim medis yang membantu menolong korban. “Persiapannya butuh berminggu-minggu, dan Alhamdulillah masih dapat juara, meskipun hanya harapan 2,” ujar Bambang.

Setelah mendirikan Komunitas Kediri Robotika ini, dia berharap lomba-lomba robot di luar daerah tak lagi hanya didominasi oleh SD dan SMP Plus Rahmat saja, namun juga sekolah-sekolah lain. Menurutnya, potensi anak-anak di Kota Kediri ini sebenarnya bagus. “Mereka hanya perlu dorongan dan wadah untuk mengasah kemampuan mereka tersebut,” tutur pria yang kini mengajar di SMP Plus Rahmat.

Dia juga mengungkapkan, komunitasnya tersebut mengadaptasi sistem dari Komunitas Kampung Robotika di Sidoarjo. Di komunitas tersebut, mereka tidak menggunakan alat dan bahan yang berkualitas saja, namun juga yang terjangkau. “Jadi saya menyiapkan peralatan dan bahan yang sederhana, namun tetap bisa membuat robot. Nanti kalau ingin ikut lomba, tinggal di-upgrade saja kualitasnya. Cara membuatnya sama saja,” kata Bambang.

Bagi yang berminat untuk mengikuti komunitas yang didirikan oleh Bambang tersebut, dia membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapapun, terutama siswa SD dan SMP. “Karena saya ingin anak-anak di Kediri semakin melek teknologi, dan bisa membuat robot yang nantinya akan berguna bagi orang banyak,” pungkasnya. (della cahaya praditasari)

 

Follow Untuk Berita Up to Date