Kenali Dampak Penggunaan Sosmed Secara Berlebihan

Share this :

Malang, koranmemo.com – Ahli Kesehatan Mental Universitas Brawijaya, Dr. Sumi Lestari menuturkan, pola perilaku ketakutan dan kekhawatiran akan tertinggal informasi terkini seperti trend terbaru dapat disebut dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan akan ketinggalan informasi terbaru.

 

“FOMO merupakan suatu gangguan mental yang menghinggapi segala usia dan jenis kelamin apapun. Hasil penelitian menyatakan bahwa orang yang sering menggunakan media sosial dan handphone memiliki resiko lebih tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, FOMO memiliki beberapa ciri, di antaranya merasa tidak mampu jauh dari handphone atau khawatir jika handphone tertinggal. Mereka merasa takut ketinggalan informasi jika kehabisan kuota data, sehingga sering melakukan pengecekan di sosmednya untuk melihat informasi terbaru dari teman-temannya.

“Memiliki obesesi terhadap like dan komen, merasa gelisah jika tidak mampu mengakses sosmednya atau meng-update statusnya serta emiliki dorongan untuk selalu eksis dalam sosmed atau merasa bersalah jika terlalu lama atau absen dalam sosmednya,” tuturnya.

Dr. Sumi menambahkan, beberapa dampak yang muncul akibat FOMO di antaranya, berpengaruh pada kesehatan mental individu karena merasa tidak bahagia. Ketakutan akan kehilangan moment atau kesempatan sehingga membuat kondisi fisik mudah lelah dan  mengalami kesulitan tidur atau insomnia, memperburuk hubungan sosial secara nyata maupun maya dan yang paling parah merasa cemburu melihat kehidupan orang lain lebih bahagia dan berhasil dari postingan-postingan yang dilihatnya.

Menurut Dr. Sumi, FOMO dapat ditanggulangi dengan menerapkan JOMO (Joy of Missing Out) yaitu suatu perasaan cuek saat tidak mengikuti atau tertinggal berita terkini atau trend terbaru. Individu yang menerapkan JOMO menyadari bahwa FOMO suatu tindakan sia-sia dan tidak membawa keuntungan bagi dirinya.

“Selain itu dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan melakukan aktivitas yang disenangi misalkan olahraga, memasak, melukis dan lain sebagainya,” ujarnya.

Sementara itu Ahli Psikologi Universitas Negeri Malang, Dr. Hetti Rahmawati, menuturkan selain istilah FOMO, ada juga istilah No Mobile Phone Phobia (Nomophobia) yaitu dimana seseorang akan merasa cemas berlebihan bila handphone jauh dari genggaman. Nomophobia dipicu adanya ketergantungan terhadap aplikasi dalam handphone sehingga dapat memunculkan ketergantungan game online dan sosmed, serta memunculkan sindrom FOMO.

“Jadi dia akan sangat cemas bila tiada handphone di tangannya. Cemas adalah kondisi ketegangan berlebihan secara fisik dan biologis,” ujarnya.

Lanjutnya, dalam kebutuhan psikologi dalam sosmed, seseorang terobsesi dengan fitur di sosmed seperti like, unlike, komen dan share. Hingga dijadikan sebagai media memperoleh pengakuan atau supaya diterima secara eksistensinya di depan orang lain.

“Namun ini semu tidak otentik, karena jika berlebihan akan mengurangi makna hubungan psikologis yang otentik dengan pihak lain, kebutuhan pengakuan dan diterima ini belum tentu sinkron dengan realitanya,” tuturnya.

Menurut Dr. Hetti, solusi yang perlu dilakukan salah satunya yaitu secara fisik dapat dengan relaksasi fisik atau otot dan pernafasan. Perlu pembenahan cara pandang terhadap sosmed atau informasi untuk lebih kritis dan menggunakan akal sehat dalam mengkaji kebenarannya. Kemudian memunculkan cara belajar baru untuk menumbuhkan sensasi memperoleh kesenangan dengan pencapaian prestasi yang nyata. Serta produktif dalam beraktivitas seperti olahraga dan rekreasi.

“Selain itu menjauh dari hape secara fisik sekali waktu. Menguatkan hubungan psikologis dan penerimaan diri yang lebih baik. Memaknai eksistensi diri yang asli dengan sebenarnya bersama orang lain dalam aktivitas nyata dan bukan image karena tuntutan like dari dunia maya, serta menjadi diri sendiri secara penuh,” ujarnya.

Dr. Hetti menambahkan pengakuan sosial dapat diperoleh dari interaksi nyata dengan menyeimbangkan waktu antara tatap muka dengan orang lain lebih banyak, dan mengurangi  tatap layar handphone. Misalnya puasa handphone selama sehari dan meletakkan handphone jauh dari tempat tidur. Kemudian menekuni hobi bersama orang lain.

“Yang terpenting tetap mengedepankan porsi hubungan dengan  manusia secara asli dan orang tua perlu sering mengajak anak bercakap-cakap dan bersilaturahmi,” tuturnya.

Reporter: Mokhammad Sholeh

Editor: Della Cahaya