Kemarau Panjang, Petani di Kediri Mulai Gilir Sitem Irigasi

Kediri, koranmemo.com – Petani yang berada di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, sebagian mulai menyebar benih padi untuk persiapan musim tanam ketiga. Untuk memenuhi kebutuhan air, petani memberlakukan sistem gilir memanfaatkan air dari saluran irigasi sekitar lahan. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kualitas tanaman dan hasil panen nanti.

Salah satu petani di Kelurahan Gayam Kecamatan Mojoroto, Suparmi (75) mengatakan, setelah memasuki musim kemarau para petani harus pandai memanfaatkan sumber air. Jika tidak, tanaman tidak akan tumbuh dengan baik bahkan mengering dan akhirnya mati. “Salah satunya dengan cara bergantian mengalirkan air dari irigasi ke sawah,” ujarnya, Senin (16/9).

Untuk mengalirkan air ke lahan, petani membendung aliran irigasi sehingga permukaan air lebih tinggi. Ini memudahkan petani untuk mengambil air, bisa menggunakan cara manual ataupun menggunakan pompa air. Jika air yang diperlukan sudah cukup, bendungan akan dibongkar atau dipindah ke lokasi lain sesuai giliran.

Air irigasi ini tidak hanya memenuhi tanaman padi yang sudah tumbuh, namun juga digunakan untuk pembibitan. “Kalau bibit juga hampir sama pemeliharaannya, tapi kalau sampai telat airnya harus bikin lagi. Lumayan, harus mengeluarkan modal Rp 130.000, karena harga per kilogramnya Rp 13.000. Jika menggunakan pompa air, pengeluarannya bertambah,” imbuhnya.

Sementara itu, menurut Darji (61) petani lainnya, untuk lahan yang dekat dengan irigasi, petani memilih tetap menanam padi karena dengan sistem gilir, kebutuhan air masih dapat terpenuhi. Namun, petani yang mempunyai lahan di sebelah utara, lebih memilih untuk menanam jagung. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi kbutuhan air untuk membasahi lahan.

Meskipun beralih ke tanaman jagung, lanjutnya, beberapa petani harus memanfaatkan air sumber dengan mengunakan pompa air. “Lumayan harus menambah pengeluaran. Jadi beruntung petani yang mempunyai lahan di sini (sebelah selatan), air masih gratis sehingga pengeluaran tidak banyak,” ucapnya.

Darji sendiri memilih tetap menanam padi, alasanya cukup sederhana karena akhir September biasanya sudah memasuki musim hujan. Dia khawatir jika beralih tanaman dan hujan mulai turun, justru membuat tanamannya mati. “Jagung atau tanaman palawija lainnya kalau kebanyakan air justru busuk, akhirnya mati,” ujarnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date