Keluhkan Biaya Nikah

Salah satu catin yang hendak mengurus surat di KUA Mojoroto Kota Kediri (ducan/memo)
Salah satu catin yang hendak mengurus surat di KUA Mojoroto Kota Kediri (ducan/memo)

*Tanpa Sosialisasi dari KUA, Catin Kaget

Kediri, Memo- Beberapa calon pengantin (catin) belakangan ini mengeluhkan tingginya biaya nikah sebesar 600.000 untuk pernikahan yang digelar di luar KUA (Kantor urusan Agama). Karena selama ini pihak KUA sama sekali tidak pernah melakukan sosialisasi.

Abdul Sodiq, Bagian Humas Kemenag Kota Kediri, mengatakan ketentuan tersebut sudah berlaku sejak Juli 2014 lalu. Sedangkan biaya tersebut digunakan untuk pengganti administrasi (pengurusan berkas) dan transportasi penghulu di luar kantor maupun di luar jam kerja.

Ditambahkan, untuk catin yang menikah di kantor tidak dikenakan biaya apapun (gratis). “Semua tarifnya sama, uang Rp 600.000 itu hanya dikenakan untuk calon pengantin yang ingin menikah di luar KUA dan di luar jam kerja. Itu sudah ditetapkan sejak keluarnya PP nomor 48 tahun 2014 tentang Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dilingkungan Kemenag terkait biaya nikah,” ungkapnya.

Menurutnya, semenjak adanya kasus pungli di Kota Kediri beberapa waktu lalu, Kemenag pusat sudah menyusun peraturan baru yang harapanya kedepan tidak terjadi pungli kembali.

Kendati demikian, uang tarikan tersebut tidak serta merta diberikan langsung kepada penghulu. Namun, setiap catin akan membayar ke bank yang ditunjuk pemerintah dan uang tersebut akan masuk ke kas negara sebagai PNBP.

Kemudian dari pendapatan tersebut, pemerintah akan menghitung pendapatan setiap KUA pada tiap bulannya yang nantinya dikeluarkan sebagai uang pengganti seperti biaya tranportasi penghulu dan untuk hal yang sifatnya administrasi.

“Jangan khawatir ada pungli, karena uangnya ditransfer melalui bank. Tidak seperti dulu yang diberikan langsung ke penghulu,” imbuhnya.

Sementara, semenjak ditetapkannya aturan tersebut pihaknya mengakui kurangnya sosialisasi terhadap masyarakat karena minimnya anggaran publikasi dari Kemenag.

“Memang selama ini kami melakukan sosialisasi kepada masyarakat karena minimnya anggaran. Selama ini kami hanya menekankan setiap satker untuk memberikan sosialisasi secara umum,” ujarnya.

Winda (25) salah satu catin warga Kota Kediri mengaku sempat kaget dengan tarif yang ditentukan di setiap KUA. Pasalnya, sebelumnya pihaknya tidak mengetahui aturan baru tersebut.

“Awalnya kaget, sebab rata-rata tidak ada yang tahu dengan tarif sebesar itu. Tapi kalau bayarnya ke Bank ya tidak menjadi masalah juga,” jelasnya.(can)