Kekerasan Anak Masih Tinggi

Share this :

Tulungagung, Memo – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) melalui Unit Perlindungan Anak dan Perempuan (UPPA) Polres Tulungagung menyatakan bahwa angka kasus kekerasan terhadap anak yang meliputi pencabulan, persetubuhan serta penganiayaan di Kabupaten Tulungagung masih tinggi. Pada tahun 2016, selama kurun waktu lima bulan terakhir, tercatat sebanyak 12 kasus yang ditangani oleh UPPA. Dibanding dengan lima bulan pada 2015, jumlah itumeningkat yakni sekitar tujuh kasus.

Satreskrim UPPA Polres Tulungagung disaat menunjukan pelaku persetubuhan (Imam Safii) dalam releas kemarin (deny/memo)
Satreskrim UPPA Polres Tulungagung disaat menunjukan pelaku persetubuhan (Imam Safii) dalam releas kemarin (deny/memo)

Kapolres Tulungagung AKBP FX Bhirawa Braja Paksa melalui Kasat Reskrim AKP Andria D Putra menyatakan, masih banyak terjadi kasus pencabulan dan persetubuhan. Ia menegaskan, rata-rata kasus tersebut akibat minimnya perhatian dari orang tua, baik korban maupun pelaku. “Masih banyak kasus pencabulan. Korban dan pelaku hampir semuanya dibawah umur,” ungkapnya.

Andria mengatakan, sejak bulan Januari hingga Mei tahun ini, pihaknya telah menangani sebanyak 12 kasus. Seluruh korban pencabulan adalah anak dibawah umur. Pelaku ternyata juga mayoritas masih usia pelajar sekolah maupun sudah diatas umur. “Memang benar semua korban dibawah umur. Dari beberapa kasus pencabulan yang kami tangani, ada yang sampai hamil. Artinya, tidak hanya dicabuli tapi juga disetubuhi pelaku,” katanya.

Dari data UPPA Polres Tulungagung diketahui paling banyak terjadi kasus pencabulan pada Mei, sebanyak empat kasus. Dua kasus terjadi pada Februari, sedangkan Januari nihil, Maret dan April masing-masing tiga kasus.

Perwira dengan tiga anak ini membeberkan, penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak adalah minimnya perhatian dari orangtua. Kondisi keluarga yang kurang kondusif juga turut menjadi pemicu timbulnya kasus kekerasan. “90 persen akibat broken home. Ada juga yang ditinggal orang tuanya bekerja ke luar negeri dan dirawat oleh neneknya. Anak itu pun kurang pengawasan,” jelasnya.

Menurut dia, untuk meminimalisir kasus pencabulan memerlukan kerjasama semua pihak. Utamanya peran masyarakat di sekitar anak-anak yang mengalami broken home. Peran lain yakni dari LSM serta lembaga perlindungan anak (LPA). “Di Tulungagung itu belum ada rumah aman (shelter). Dan penanganan saat ini kami kerjasama dengan LBH Kartini,” imbuhnya.

Andria menambahkan, untuk kasus terakhir yang saat ini ditangani UPPA Polres Tulungagung yakni kasus persetubuhan yang dilakukan oleh Imam Sapii (24) warga Desa Pulerejo Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung, terhadap gadis dibawah umur sebut saja Bunga (15) bukan nama sebenarnya warga Kecamatan/Kabupaten Tulungagung.

Berdasarkan hasil dari penyidikan, pelaku telah menyetubuhi Bunga sebanyak empat kali dirumah nenek pelaku yang berada di Desa Pulerejo Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung, terakhir kejadian persetubuhan pada Senin (02/05). Dengan adanya kejadian ini, orang tua korban merasa tidak terima dan melaporkan kejadian ini ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Tulungagung guna proses hukum lebih lanjut.

“Untuk pelaku dijerat dengan pasal 81 ayat 2 ayat 1 sub pasal 76 d UU RI no 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun kurungan penjara,” pungkasnya. (den/Jb)

 

Data kekerasan terhadap anak periode Januari hingga Mei

Januari : nihil

Februari : 2 kasus

Maret : 3 kasus

April : 3 kasus

Mei : 4 kasus

 

Total : 12 kasus

– Januari hingga Desember 2015 : 22 kasus

– Kasus meliputi pencabulan, persetubuhan, pemerkosaan, dan penganiayaan

-Penyebab karena kurangnya perhatian orang tua, keluarga yang broken

Sumber : UPPA Polres Tulungagung