Kebakaran Akibat Human Error di Trenggalek Perlu Perhatian 

Trenggalek, Koranmemo.com – Kebakaran akibat kelalaian manusia atau human error mendominasi ketimbang faktor lain penyebab kebakaran. Merujuk data Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran, hingga awal November 2019 akibat human error mencapai 16 peristiwa dari total 35 kejadian sepanjang tahun 2019. Pemicu kebakaran akibat human error perlu mendapatkan perhatian banyak pihak.

Koordinator Lapangan Pemadam Kebakaran Trenggalek, Mochamad Basuki merinci, penyebab 35 peristiwa kebakaran itu terbagi menjadi 9 peristiwa kebakaran akibat korsleting listrik, 2 kebocoran tabung gas dan 8 penyebab kebakaran yang masih dalam penyelidikan atau masih belum diketahui penyebabnya. “Pemicu kebakaran kebanyakan manusia kurang berhati-hati,” jelasnya, Selasa (12/11). Penyebab kebakaran akibat kelalaian bervariasi. Diantaranya kecerobohan membuang puntung rokok sehingga menyebabkan kebakaran gudang penggergajian kayu di wilayah Desa Wonorejo Kecamatan Gandusari pertengahan Mei lalu. “Banyak penyebab. Ada juga misalnya kelalaian meninggalkan kompor canting batik dan lain sebagainya,” ujarnya.

Mayoritas daerah Trenggalek rawan terjadi kebakaran. Namun yang paling berpotensi rawan kebakaran adalah Kecamatan Gandusari. Pasalnya kecamatan itu banyak pelaku usaha yang menggunakan bara api diantaranya seperti industri genting, triplek, penggergajian. “Kalau berbicara potensi sebetulnya semua daerah berpotensi (terjadi kebakaran),” imbuhnya.

Basuki, sapaan akrabnya menyebut, upaya antisipasi sering dilakukan dengan menggelar sosialisasi baik instansinya maupun berbagai pihak. Namun terkadang, masyarakat belum sepenuhnya menyadari dan masih menganggap sepele. Kurangnya kepedulian itu terlihat minimnya antusiasme peserta sosialisasi. “Kalau sudah kejadian baru sadar pentingnya sosialisasi,” kata dia.

Padahal sosialisasi itu, lanjut Basuki sangat penting baik untuk mencegah terjadinya kebakaran maupun penanganan di lapangan. Sebab dia sering memindahkan motor warga di sekitar lokasi untuk mencari jalan ketika bertugas. Motor tersebut kebanyakan milik warga yang ingin melihat atau mengabadikan peristiwa tersebut. “Bagi kami waktu sedetikpun sangat berharga,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetiya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date