Kasus Pamsimas Penuhi Unsur Korupsi

Ngawi, Koran Memo – Kejaksaan Negeri Ngawi akhirnya menetapkan kasus proyek pembangunan penyedia air minum dan sanitasi total berbasis masyarakat (Pamsimas) sudah memenuhi unsur korupsi. Saat ini, kejaksaan tengah menemukan bukti guna membidik pihak yang bertanggungjawab. “Ada temuan baru yang mengarah ke tindak pidana korupsi, namun belum bisa kami beritahukan mengenai itu, karena menyangkut kepentingan penyidikan,” kata Kasi Pidana Khusus Kejari Ngawi, I Ketut Suarbawa, Selasa (2/2).

Penyidik Kejari Ngawi saat melakukan pemeriksaan terhadap para saksi kasus Pamsimas kemarin
Penyidik Kejari Ngawi saat melakukan pemeriksaan terhadap para saksi kasus Pamsimas kemarin

Penanganan kasus di Dinas Kesehatan Ngawi senilai Rp 845 juta bersumber dari APBN tahun 2014 yang dikerjakan oleh CV Prima Artha itu sebelumnya sempat terhenti. Namun Selasa (2/2), penyidik kembali memeriksa tiga saksi.Ketiga  saksi yakni, Ketua Tim Kerja Masyarakat (TKM) Desa Begal, Kecamatan Kedunggalar Suradianto, Ketua Tim Kerja Masyarakat (TKM) Desa Ngale, Kecamatan Paron, Bambang Sulistyo, dan Ketua Tim Kerja Masyarakat (TKM) Desa Jatimulyo, Kecamatan Mantingan, Nyono.

Menurut I Ketut, pemeriksaan terhadap ketiga saksi tidak lain untuk menemukan dua alat bukti. Sisi lain, pihaknya juga akan meminta keterangan dari tim ahli dari DPU BMCK Ngawi yang telah melakukan perhitungan teknis pada proyek tersebut.  “Total ada 40 pertanyaan yang kita berikan kepada ketiga saksi dan pemeriksaan terus berlanjut, untuk menemukan pihak yang dapat dimintai pertanggung jawabannya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua TKM Desa Begal, Kecamatan Kedunggalar, Suradianto mengatakan proyek tersebut hingga kini belum dapat difungsikan sejak serah terima kepada TKM Desa Begal.“Sejak serah terima itu sama sekali belum difungsikan, karena pipanya pecah. Mungkin penggalian pipanya itu kurang dalam, jadi saat ada kendaraan bermuatan berat lewat pipanya pecah,” ungkapnya usai menjalani pemeriksaan.

Ketua TKM Desa Jatimulyo, Kecamatan Mantingan, Nyono mengakui jika pengerjaan proyek tersebut tidak maksimal. “Kalau dinilai dari sisi pekerjaanya, proyek tersebut kurang maksimal, dan pekerjaanya pun terlambat melapau batas waktu,” imbuhnya. (dik/jur)

Follow Untuk Berita Up to Date