Peneliti Perkirakan Banyak Kasus Corona di Indonesia Belum Terdeteksi

Share this :

Jakarta, koranmemo.com – Indonesia merupakan salah satu negara yang terinfeksi virus Covid-19 dengan jumlah terbanyak setelah Malaysia di Asia Tenggara. Penelitian dari pusat permodelan matematika untuk penyakit menular (CMMID) yang ada di London, Inggris juga memperkirakan Indonesia baru mengetahui sekitar 3,8 persen dari keseluruhan kasus corona di Indonesia.

Kamis (26/3), jumlah kasus virus Covid-19 di Indonesia telah mencapai 790 kasus dan korban meninggal dunia mencapai 58 warga. Meski jumlah kasus yang dilaporkan pemerintah Indonesia masih dibawah Malaysia, jumlah kematian akibat kasus corona di Indonesia merupakan yang terbanyak di Asia Tenggara.

CMMID telah merilis perkiraan persentase kasus virus Covid-19 yang telah dilaporkan oleh setiap pemerintah dari berbagai negara, terkait penanganan yang dilakukan oleh setiap negara. Dalam laporan ini, Indonesia termasuk negara dengan kategori terendah dalam mengetahui jumlah kasus sesungguhnya.

Dengan perkiraan jumlah kasus yang baru diketahui sekitar 3,8 persen, hal ini menunjukan jika diperkirakan sudah ada sekitar 20.000 kasus secara keseluruhan. Sedangkan Malaysia, negara dengan jumlah kasus terbanyak di Asia Tenggara diperkirakan telah mengetahui sekitar 47 persen total kasus di negaranya.

Peneliti lain juga mengatakan, skenario terburuk kasus virus Covid-19 akan melonjak tajam di Indonesia pada akhir bulan April. “Kami telah kehilangan kontrol, virus ini telah menyebar kemana-mana. Mungkin keadaannya akan seperti Wuhan atau Italia,” ujar ekonom kesehatan masyarakat, Ascobat Ghani dikutip dari Reuters.

Pemerintah Indonesia sendiri masih optimis jika dampak yang ditimbulkan dari kasus ini tidak akan separah negara lain. “Kami tidak akan seperti itu (Italia dan China),” ujar Juru Bicara Penanganan Corona, Achmad Yurianto.

Baca Juga: Indonesia Akan Gunakan Surat Utang untuk atasi kasus corona di Indonesia

Meski Pemerintah Indonesia masih optimis dapat menangani masalah ini, masih banyak yang meragukan kemampuan dari Indonesia, terutama dari dunia Internasional. Berdasarkan data yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan Indonesia, kapasitas kasur rumah sakit yang dimiliki adalah sebanyak 321.544.

Jika dibandingkan dengan jumlah masyarakat Indonesia, maka nilainya adalah sebesar 12 kasur rumah sakit per 10.000 warga. Nilai ini masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan negara lain seperti Korea Selatan yang memiliki nilai perbandingan sebesar 115 kasur rumah sakit per 10.000 warga, berdasarkan data dari organisasi kesehatan dunia (WHO).

Meninjau lebih jauh, jumlah dokter di Indonesia juga masih sedikit dan tersentralisasi di kota besar. Berdasarkan data WHO pada tahun 2017, jumlah perbandingan dokter di Indonesia sebesar 4 dokter per 10.000 warga.

Mengenai hal ini, Yurianto mengatakan, langkah social distancing sudah cukup dalam menangani kasus virus Covid-19, penambahan kasur rumah sakit dan petugas medis juga belum terlalu dibutuhkan. Meski begitu, pemerintah juga telah mendirikan rumah sakit darurat dengan memanfaatkan Wisma Atlit di Jakarta.

Terakhir, kondisi penanganan medis Indonesia yang mengkhawatirkan para pengamat adalah jumlah fasilitas Intensive Care Unit (ICU) yang jumlahnya dinilai masih sedikit. Fasilitas ini merupakan fasilitas penting yang dibutuhkan untuk menangani kasus parah, termasuk yang ditimbulkan dari pandemi corona.

“Jika dalam kondisi sakit kritis, pasien yang dapat memperoleh fasilitas ICU dan alat bantu pernapasan akan memiliki kemungkinan bertahan hidup yang lebih tinggi,” ujar Ahli Kesehatan Masyarakat dari Universitas Curtin Australia, Archie Clements.

Kekhawatiran pengamat tentang jumlah fasilitas ICU memang harus menjadi pertimbangan Pemerintah Indonesia. Berdasarkan sebuah penelitian dalam jurnal Obat Perawatan Kritis bulan Januari, Indonesia hanya memiliki 2,7 fasilitas ICU untuk orang dewasa per 100.000 orang. Penelitian ini sendiri menggunakan data tahun 2017, dan nilai tersebut merupakan termasuk salah satu yang terendah di kawasan Asia Tenggara.

Reporter: Ahmad Bayu Giandika

Editor: Della Cahaya