Kampung Warna-warni Jodipan

Share this :

Dulu Kumuh, Kini Jadi Objek Wisata Baru

 

Kampung Jodipan di Kota Malang, Jawa Timur yang dulu kumuh kini jadi objek wisata baru yang dikenal sebagai kampung warna-warni. Tiap akhir pekan, pengunjung yang jumlahnya mencapai ratusan orang berkunjung ke kampung tersebut.

Kampung ini mulai dikenal luas sejak fotonya dibagikan ke media sosial. Penataan kampung ini disebut mirip dengan permukiman di pinggiran Kali Code Yogyakarta. Sekitar 107 rumah warga di kampung itu dicat dengan 17 warna dan dihiasi gambar yang dilukis komunitas mural. Inisiatif untuk mencat kampung ini muncul dari sejumlah mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang yang tergabung dalam kelompok Guyspro.

Koordinator Guyspro, Nabila Firdausiyah mengaku awalnya ingin mengubah perilaku warga di bantaran sungai yang membuang sampah secara sembaran. Jodipan dipilih lantaran terlihat memiliki lanskap yang bagus dilihat dari jembatan Jalan Gatot Subroto. “Kami melibatkan komunitas mural dan seniman untuk melukis dinding rumah warga,” katanya.

Untuk keperluan pengecatan, dikerahkan 30 tukang cat. Mereka bekerja untuk mengubah wajah kampung kumuh Jodipan menjadi lebih indah sejak Juni 2016. Dia mengaku tak menyangka Jodipan kemudian menjadi tujuan wisata. “Awalnya pengecatan kampung dilakukan agar rumah-rumah di sana tak terlihat kusam dan agar masyarakat memperhatikan masalah sanitasi,” imbuh Nabila.

Keunikan warna itulah yang membuat wisatawan tertarik mengunjungi kampung tersebut. Mereka tampak berkeliling gang-gang sempit di dalam kampung yang berada bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, sementara warga di sana tetap beraktivitas seperti biasa. Sesekali para wisatawan mengambil foto suasana kampung ataupun ‘selfie’. Banyak juga yang berfoto di atas jembatan dengan latar belakang Kampung Jodipan.

Salah seorang penunjung asal Sidoarjo, Shely mengaku kagum dan menyukai rumah bercat warna-warni di kampung itu. Dia bersama temannya asyik berfoto dengan latar belakang dinding bergambar. “Indah dan rapi, tak menyangka rumah ini ada di tepi sungai,” katanya.

Ketua RW 2 Kelurahan Jodipan, Bowo tak menyangka kampungnya yang dulu dikenal sebagai pemukiman kumuh kini menjadi objek wisata alternative. “Saya yang punya kampung bingung sendiri, apa ya yang mereka lihat ? Ada orang Belanda, Australia, Inggris, dan juga Jepang. Banyak yang ke sini,” kata Bowo.(ril)