Kaleidoskop 2017, Mulai Meningkatnya Kasus Perceraian akibat Medsos Hingga Pelajar Mesum

Share this :

Kediri, Koranmemo.com-Tahun 2017 akan segera berakhir dengan memasuki babak baru tahun 2018 yang tinggal hitungan hari lagi. Sepanjang tahun 2017, masalah sosial  di Kota Kediri cukup mewarnai perjalanan  waktu bahkan hingga menjadi santapan publik.

Salah satu masalah sosial yang menarik disimak adalah kasus perceraian. Jumlah kasus perceraian di Kota Kediri setiap tahunnya mengalami peningkatan cukup signifikan. Data yang dihimpun dari Pengadilan Agama (PA) Kota Kediri tahun 2016 tercatat sebanyak 860 perkara. Sedangkan tahun 2017, mulai Januari sampai Oktober saja, ada 645 kasus yang masuk ke PA Kota Kediri. Penyalahgunaan media sosial (medsos) menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan rumah tangga, termasuk di kalangan aparatur sipil negara (ASN).

Wakil Panitera Pengadilan Agama Kota Kediri, Katimun mengungkapkan, perkembangan zaman memang memberikan dampak dalam kehidupan rumah tangga. Untuk ASN yang memilih mengakhiri bahtera rumah tangganya akibat pengaruh media sosial cenderung meningkat. Tercatat, dari rata-rata perkara yang diajukan baik cerai gugat maupun talak, hampir separuh dari jumlah perkara ini dipengaruhi oleh media sosial.

” Rata-rata sekitar 31 sampai 32 perkara yang dialami ASN, hampir 10 sampai 20 perkara dilatarbelakangi penggunaan media sosial yang salah. Semisal akibat dampak itu (medsos) menjadi tidak setia, dan masalah lain-lain. Itupun terkuak setelah di persidangan,” kata Katimun

Data yang dihimpun dari PA Kota Kediri terhitung mulai Januari hingga September 2017, perceraian akibat masalah ekonomi menjadi penyumbang masalah yang paling rumit. Masalah ekonomi menempati urutan pertama dengan jumlah 214 kasus penyebab perceraian disusul perselisihan secara terus menerus dengan jumlah 128 kasus. Meninggalkan salah satu pihak menempati urutan ketiga dengan jumlah kasus sebanyak 87 kasus disusul perkara tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan jumlah 28 kasus. “Secara global totalnya ada 486 kasus penyebab perceraian dengan beragam motif dan latar belakang terhitung Januari hingga September 2017. Untuk Oktober masih proses pendataan karena masih bulan berjalan,” imbuh Katimun.

Sementara, untuk jumlah keretakan rumah tangga yang dialami ASN cenderung meningkat. Berdasarkan data perceraian khusus ASN terhitung sejak Januari hingga September 2017, jumlah perceraian didominasi perkara cerai gugat dengan total keseluruhan sebanyak 265 kasus.  Adapun berdasarkan jumlah secara global, jumlah cerai talak yang diterima terhitung mulai Januari hingga September 2017 sebanyak 154 perkara. Sedangkan yang sudah diputus dalam kurun waktu yang sama adalah 121 perkara. Untuk perkara cerai gugat berdasarkan data yang dihimpun dalam kurun waktu yang sama adalah untuk kasus yang diterima sebanyak 429 perkara. Sedangkan untuk kasus yang sudah diputuskan sebanyak 377 perkara. “Ini data secara global dari berbagai lapisan masyarakat. Ada yang dikabulkan dan ada juga yang sebaliknya. Ada juga yang memilih rujuk, dan berbagai faktor lainnya,” pungkasnya.

Di luar permasalahan rumah tangga yang berujung perceraian, fenomena sosial lain yang menyolok adalah perilaku menyimpang pelajar. Beberapa waktu terakhir, publik disuguhi sederet pemberitaan tentang para pelajar, baik laki-laki maupun perempuan yang terjaring razia karena diduga melakukan tindak asusila. Kebanyakan para pelajar itu kedapatan berada di kamar kos bersama pasangannya. Mayoritas dari mereka mengaku sudah pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Bahkan tak hanya di kamar kos, tindakan asusila itu juga dilakukan di tempat umum. Misalnya lokasi dekat kawasan wisata, warung, dan tempat – tempat lainnya.

Salah satunya terjadi di sebuah warung di kawasan Lebak Tumpang Kelurahan Pojok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, dekat kawasan wisata Goa Selomangleng, Minggu  (19/11) lalu. Seorang pelajar tingkat SMA di Kediri nekad mencuri alat kontrasepsi milik orang tuannya untuk berhubungan badan dengan pacar yang dikenalnya melalui media sosial (medsos).

Ada pula anak anggota DPRD yang terjaring razia ketika berduaan dengan pasangannya di sebuah rumah kos di wilayah Kecamatan Pesantren. Keduanya masih berstatus pelajar madrasah aliyah. Petugas harus menunggu selama 20 menit sebelum pelajar itu membukakan pintu. Saat dirazia baju dan seragam keduanya terlihat kusut. Dari informasi yang dihimpun, dua pasang pelajar yang terjaring tersebut mengaku memang pernah melakukan hubungan suami istri sebelumnya.

Satpol PP Kota mencatat,  setidaknya ada 50 pelajar yang terjaring razia sejak Januari hingga Oktober 2017. Jumlah ini belum termasuk para pelajar yang terjaring di rumah kos. “Selain itu juga terdapat pasangan di bawah umur yang hendak berbuat mesum di GOR Jayabaya Kota Kediri saat siang bolong. Sungguh memprihatinkan,” ujar Nur Khamid, Kabid Trantib Satpol PP Kota Kediri, Jumat (24/11).

Selain dua masalah itu, tak kalah hebohnya adalah berita penutupan karaoke Inul Vista (Invis). Yang membuat heboh adalah alasan penutupan karena adanya dugaan pertunjukan tari telajang (striptis) di lokasi itu. Kasus terbongkar setelah tim Polda Jatim melakukan penggerebekan. Selanjutnya, Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Kediri, Senin (7/8) resmi mencabut perizinan CV Adi Buana yang menaungi usaha karaoke Inul Vista di Kediri Mall. Pencabutan ini merupakan serangkaian bukti pelanggaran yang dilakukan oleh CV Adi Buana.

Anang Kurniawan, Kepala DPM-PTSP mengatakan, pihaknya sudah melakukan evaluasi terhadap perizinan CV Adi Buana yang bergerak di dalam bidang usaha karaoke dan makanan serta minuman. Dari hasil evaluasi tersebut pihaknya sudah menemukan bukti-bukti pelanggaran, namun pihaknya tidak berani mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran tersebut. “Kalau pelanggarannya tidak perlu saya sampaikan, yang jelas kegiatan usahanya tidak sesuai dengan perizinan yang kita keluarkan,” jelasnya

Melalui kewenangannya, Anang Kurniawan mempertegas, pencabutan izin CV Adi Buana mulai hari ini hingga seterusnya. “Yang kita cabut perizinan CV Adi Buana nya, terhitung mulai hari ini sampai seterusnya,” jelasnya.

Sementara, Ali Mukhlis, Plt Kepala Satpol PP Kota Kediri mengatakan, pihaknya sudah menyegel tempat hiburan dan karaoke Inul Vista setelah BPM-PTSP mencabut perizinan CV Adi Buana tersebut. Ali mengatakan akan terus melakukan pengawasan agar tidak ada aktivitas di dalam Inul Vista itu.

Pencabutan izin CV Adi Buana serta penyegelan tempat hiburan dan karaoke Inul Vista dilakukan oleh BPM-PTSP bersama Satpol PP Kota Kediri. Seperti diberitakan sebelumnya, Inul Vista setelah dilakukan penggerebekan oleh Polda Jawa Timur diketahui terdapat praktik prostitusi di dalamnya. Selain itu, ratusan botol minuman beralkohol dijual ditempat tersebut tanpa memiliki izin.

Reporter: Angga Prasetya

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.