Jembatan Rejoto Ambruk

Share this :

Mojokerto, koranemo.com – Proses pembangunan jembatan Rejoto sepanjang 130 meter yang menghubungkan Kelurahan Pulorejo dengan Kelurahan Blooto Kecamatan Prajurit Kulon Kota Mojokerto, dipastikan terhenti sementara. Sebab pada Jumat (11/11), jembatan senilai Rp 40 miliar itu ambruk ketika pekerja memasang balok penghubung (grider) pada bentang bagian tengah jembatan tersebut.

Kepala Seksi Pelaksanaan PT Wika, Mohammad Sholeh mengatakan, ambruknya konstruksi jembatan terjadi pada bagian bentang tengah sepanjang 50 meter yang sedianya akan terhubung dengan 7 grider. Saat kejadian, para pekerja sedang memasang grider keenam ke tumpuan. Sementara lima balok lainnya sudah terpasang pada tumpuan masing-masing. “Sekitar pukul 08.55 WIB, tiba-tiba terjadi goyang pada bagian tengah balok keenam. Berakibat balok efek ke ujung dan terguling menimpa balok di sampingnya. Seperti efek domino, akhirnya enam balok terguling semua tercebur ke sungai dan rusak,” kata Sholeh kepada wartawan.

Beruntung, lanjut Sholeh, tak ada korban jiwa dalam kecelakaan kerja tersebut. Sampai saat ini, dia belum bisa memastikan penyebab terjadinya guncangan pada balok keenam saat akan dipasang pada tumpuan. Saat ini pihaknya fokus mencetak 6 grider pengganti yang membutuhkan waktu lama, sekitar 20 hari. “Kejadian ini masih saya analisa penyebabnya. Karena ini sudah balok keenam, metode dan alat sudah sesuai, pekerja sudah pengalaman. Kok tiba-tiba ada goyangan pada bagian tengah bentangan. Kondisi tanah sudah kami antisipasi, tanah kami beri telapak, di situ sudah aman,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Mojokerto, Wiwiet Febriyanto mengatakan, mega proyek jembatan Rejoto menyedot APBD 2016 senilai Rp 40 miliar. Proyek tersebut dikerjakan sejak akhir Agustus lalu oleh pemenang lelang PT Brahma Kerta yang menggandeng PT Wika sebagai pabrikasi dan penanggungjawab konstruksi.

Menurut dia, progres pembangunan jembatan dengan bentang sepanjang 130 meter yang melintas di atas Kali Ngotok ini mencapai 80 persen. Kontraktor telah merampungkan pemasangan 5 grider dan pengecoran pada sisi Pulorejo. Sementara pada sisi Blooto masih dalam proses. “Kami mengalami kecelakaan, tak ada rencana kami untuk membuat tak baik konstruksi. Tidak ada kegagalan konstruksi, secara teknis tahapan pemasangan grider sudah kami sesuaikan spek dan gambar sesuai perencanaan,” terangnya.

Wiwiet mengakui, insiden ambruknya Jembatan Rejoto ini berpotensi besar membuat mega proyek puluhan miliar itu tak rampung akhir 2016. Dia mengancam akan memberikan sanksi tegas kepada rekanan jika pembangunan jembatan Rejoto tak selesai tepat waktu. Pasalnya, ambruknya jembatan tersebut masih dalam tanggung jawab penuh rekanan. “Kalau akhir tahun tak selesai, maka kami terapkan perpanjangan kepada rekanan melalui denda. Nilai denda seper seribu mil dari sisa pekerjaan yang belum selesai. Tahun depan dilanjutkan oleh rekanan yang sama. Hanya saja dengan melintas tahun, kami akan lakukan audit BPK untuk menentukan nilai yang akan dibayar,” terangnya.

Wiwiet menambahkan, pihaknya siap menghadapi proses hukum terkait ambruknya Jembatan Rejoto. “Kami dari Dinas PU akan memberikan keterangan seterang-terangnya kepada polisi atau kejaksaan. Kami akan sampaikan kalau ini masih tanggung jawab pelaksana,” tandasnya. (ag)