Jembatan Lama Kertosono Ditutup, Perahu Tambang Jadi Pilihan

Nganjuk, koranmemo.com – Masyarakat di sekitar Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk kini menjadikan perahu tambang sebagai sarana penyeberangan alternatif menyusul ditutupnya jembatan lama Kertosono akibat rusak parah dan nyaris putus.

Meskipun baru sekitar satu minggu dibuka, tetapi warga sekitar sangat bersyukur dengan keberadaan moda angkutan sungai brantas ini. Pasalnya, warga menilai jarak tempuh lebih dekat lantaran tidak harus memutar di jalan raya terlebih dahulu.Manfaat yang paling terasa khususnya masyarakat Desa Pelem Kecamatan Kertosono, dan warga Kecamatan Bandarmulyo, Jombang, yang sering menyeberang. Selain jauh, memutar di jalan raya dan melewati jembatan baru terkadang membuat was-was karena volume kendaraan yang padat di jalur tersebut.

Informasi yang dihimpun Koranmemo.com, biaya yang dikenakan bagi pengguna transportasi ini bisa dibilang murah. Untuk sepeda motor pemilik perahu mematok harga Rp 2 ribu, sementara untuk pejalan kaki Rp 1000.

“Minat warga di sekitar sini dalam menggunakan jasa perahu penyeberangan cukup tinggi. Sehari bisa mencapai hingga sekitar 120 sepeda motor maupun pejalan kaki,” jelas Teguh, pemilik perahu tambang.

Pantauan di lokasi, jalan menuju ke lokasi perahu tambang ini terbilang cukup curam. Apalagi jembatan penghubungnya juga terbuat dari bambu. Kendati demikian, kondisi medan yang sulit sepertinya tidak menyurutkan minat masyarakat untuk memanfaatkan jasa penyeberangan itu.

Untuk saat ini, perahu tambang jembatan lama Kertosono hanya beroperasi hingga sore hari. Hal ini karena terkendala penerangan jalan. Sementara itu karena banyak peminat, pemilik perahu tambang mengaku akan memperbaiki akses jalan ke perahu tambang, agar lebih aman untuk dilalui

Perahu tambang di Sungai Brantas biasanya berukuran 10 meter sampai 15 meter. Disebut perahu tambang karena untuk mengendalikan perahu tidak mengunakan mesin melainkan kawat besi yang ditarik dari kedua sisi sungai.

Untuk mencapai sisi seberang sungai, perahu dijalankan miring memecah arus sungai dengan tambatan tambang yang memiliki rel. Sayangnya, perahu tambang ini tidak dilengkapi pengamanan sama sekali, sehingga bila tambang putus perahu akan hanyut.

Reporter: Andik Sukaca

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date