Jembatan Baja Peninggalan Kolonial Belanda Ada di Nganjuk

Share this :

Nganjuk, koranmemo.com – Di wilayah Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk, terdapat sebuah bangunan jembatan berbahan besi baja peninggalan kolonial Belanda. Jembatan yang membentang di atas Sungai Widas, Desa Paron, diperkirakan dibangun sekitar tahun 1880-an.

Pantauan Koranmemo.com, kondisi jembatan sudah mulai rapuh serta terlihat banyak bagian jembatan yang mulai keropos. Termasuk beberapa kayu gelondongan besar yang membantu menyangga gelagar jembatan, juga sudah mulai keropos. Lebih-lebih bila diperhatikan dari bawah jembatan, bagian yang keropos semakin terlihat jelas.Jembatan yang terkesan kuno ini dulunya bukan difungsikan sebagai jalan umum untuk kendaraan atau orang yang melintas. Melainkan, digunakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sebagai tumpangan rel lori guna mengangkut hasil hutan kayu jati dan arang. Gelondongan kayu dan arang dari hutan lereng Gunung Pandan, diangkut menggunakan lori melewati jembatan yang membujur dari utara ke selatan menuju Stasiun Kereta Api Bagor.

Tak heran, bekas rel lori masih tertinggal di tempatnya semula, sepanjang jalur hutan njalin hingga Kecamatan Bagor. Ada beberapa rel yang sempat terlihat dan mengganggu pembangunan jalan di kecamatan setempat. Hanya, bekas rel lori tersebut tidak diambil, melainkan ditanam kembali.

Aries Trio Effendi, Tim Penelusuran Sejarah dan Situs Kuno Nganjuk mengungkapkan, rel lori milik Belanda ini mulai tidak digunakan sekitar tahun 1950-an. Tepatnya setelah peristiwa agresi Belanda kedua, lori-lori pengangkut kayu dan arang sudah tidak beroperasi lagi. Selanjutnya oleh warga setempat, jembatan penyangga rel lori dimanfaatkan sebagai jalur penghubung menuju lahan persawahan di utara sungai.

“Di atas gelagar jembatan diganti dengan plat baja, sehingga dapat dilalui kendaraan umum dan pejalan kaki,” ungkapnya.

Kini bangunan jembatan baja peninggalan Belanda sudah beberapa kali mengalami perbaikan pada bagian platnya. Sedangkan bagian kerangkanya tetap seperti semula, belum ditemukan adanya perubahan. Termasuk pondasi berbahan batu kali, pada kedua ujung jembatan masih tetap berdiri kokoh.

“Oleh warga tetap dirawat dengan baik, sebagai penanda sejarah penjajahan bangsa Belanda di wilayah Kecamatan Bagor dan sekitarnya,” pungkasnya.

Reporter Andik Sukaca

Editor Achmad Saichu