Jelang Pilbup Ponorogo, Ini Kata Pengamat yang Harus Diperhatikan

Share this :

Ponorogo, koranmemo.com – Pertarungan jilid 2 Bakal Calon Bupati ( Bacabup) Ipong Muchlissoni dan Sugiri Sancoko yang digelar di tengah pandemi Covid-19, mengundang spekulasi hasil perolehan suara akhir.

Perlu diketahui, sebelum bertemu di Pemilihan Bupati (Pilbup) Ponorogo 2020, Ipong-Giri pernah bertaruh di Pilbup 2015 bersama 2 kontestan lain yakni Petahana Amin, dan Misranto.  Dimana saat itu Ipong yang bersanding dengan Suadjarno di dukung 3 Parpol yakni Nasdem, Gerindra dan PAN. Unggul di 13 Kecamatan, yakni Kecamatan Babadan, Ponorogo Kota, Badegan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngrayun, Pulung, Sambit, Siman, Slahung, Sokoo, dan Sukorejo dengan total raihan 219.916 suara atau 39,35 persen.

Sedangkan Sugiri Sancoko yang saat itu bersanding Sukirno didukung Partai Demokrat, Partai Golkar dan PKS. Unggul di 9 Kecamatan, yakni Kecamatan Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Ngebel, Pudak, Sampung, dan Sawoo dengan total raihan suara 205.670 Suara atau 36,80 persen.

Saat ini dengan diusung 4 Parpol yakni PDI-P, PAN, PPP, dan Hanura Sugiri yang bersanding dengan Lisdyarita menantang kembali Ipong Muchlissoni ( Petahana.red) yang bersanding dengan Bambang Tri Wahono dan didukung 6 Parpol yakni Nasdem, Gerindra, PKB, Demokrat, PKS, dan Golkar.

Pengamat Politik Ponorogo, Ayub Dwi Anggoro memprediksi, melihat kondisi saat ini tingkat partisipasi masyarakat hanya dikisaran 60 persen saja. Artinya kemungkinan menang tipis seperti Pilkada 2015 akan terjadi. Hal ini berdasar pada ancaman Covid 19 saat ini membuat tingkat partisipasi rendah dari masyarakat yang memberikan hak suaranya pada 9 Desember mendatang. ” Jadi kalau melihat di Pusat yang hanya 70 persen, untuk Pilkada Ponorogo dari 100 persen DPT hanya 60 persen saja yang berpartisipasi. Akibat pandemi Covid 19 ini. Tapi milihat dinamika saat ini prediksi menang tipis sangat besar,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadyah Ponorogo ini, Minggu (13/9).

Ayub menambahkan, melihat kondisi yang terjadi saat ini maka tidak pas bila sistem kampanye Pasangan Calon ( Paslon) masih menggunakan metode pengumpulan masa. Pasalnya hal itu akan bertabrakan dengan penegakkan protokol kesehatan yang kini digalakkan. Kreatif dan inovatif dalam menyiasati kemajuan tekonologi diklaim menjadi solusi tepat saat ini dalam menjaring simpati pemilih. Sayangnya ia menilai dua Paslon belum menunjukan adu gagasan dan strategi menarik minat pemilih.

” Saat ini apa yang mau dijual ke masyarakat, agar menarik dukungan pemilih. Ini belum terlihat sampai saat ini. Kalau melihat revolusi industri 4.0 saat ini, bila kepala daerah Ponorogo tidak punya strategi untuk menyiasatinya maka Ponorogo akan selesai. Dimana Desa saat ini dengan senjumlah potensinya juga perlu dikembangkan,” tambah Doktor Universitas Hasanudin Malaysia ini.

Ia menilai, melihat kondisi saat ini Petahana ( Ipong Muchllissoni.red) cenderung diuntungkan, dengan 5 tahun kepemimpinan sebelumnya dapat menjadi bukti nyata kepada pemilih. Namun ia menganggap bila hal ini tidak dijaga secara konsisten dapat menjadi blunder. Terhadap sang penantang ( Sugiri Sancoko.red) juga diminta untuk pamer strategi dan gagasan yang mampu menyaingi pamor petahana, untuk menarik minat pemilih. ” Kalau melihat kondisi saat ini Petahana dengan segala popularitasnya masih diuntungkan, tentunya ini harus dijaga. Sedangkan untuk penantang gagasan dan inovasi menarik harus dijual kemasyarakat dimana mampu menyaingi elektabilitas petahana,” pungkasnya.

Reporter Zainul Rohman

Editor Achmad Saichu