Jalan ke Sawah Ditutup Bangunan, Petani Protes

Trenggalek, koranmemo.com – Para petani di tiga desa,  yakni Desa Buluagung, Desa Salamrejo dan Tamanan protes. Pasalnya, akses jalan umum menuju sawah yang biasa dilewati kini tidak bisa dilalui. Hal ini disebabkan akses jalan tersebut telah didirikan bangunan permanen oleh Gatot dan istrinya Sitimukaromah warga RT 8 RW 3 Dusun Kedungsangkal Desa Buluagung Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek.

Menurut Panidi (58) salah satu petani warga RT 21 RW 08 Desa Salamrejo saat dikonfirmasi mengatakan, akses jalan menuju ke sawah yang juga untuk kepentingan umum telah didirikan bangunan permanen. Padahal berdasarkan PP nomer 8 tidak boleh mendirikan bangunan permanen di bibir arus sepadan irigasi.

“ Seharusnya menutup akses jalan dibibir arus sepadan irigasi tidak diperbolehkan. Namun oleh salah satu oknum masyarakat, justru ditutup  dan difungsikan sebagai permukiman yang permanen,’’ ungkap Panidi kepada Koran Memo, Selasa (15/8).

Dikatakan, setelah didirikan bangunan permanen para petani ketika akan ke sawah saat ini terkendala. Belum lagi pasca panen maupun membajak sawah yang biasa menggunakan tenaga mesin dan semua petani melalui akses jalan tersebut.

“ Terus terang para petani protes dan sudah melayangkan surat pengaduan kepada yang berwenang. Kami juga berharap terhadap pemerintah desa untuk meluruskan perselisihan ini. Karena sesuai undang-undang desa apa bila ada perselisihan, maka Kepala Desa harus bertanggungjawab meluruskan perselisihan tersebut. Sehingga antara petani dengan yang bersangkutan atau pemilik bangunan paham dan menyadari,’’jelasnya.

Ditambahkan, bangunan itu sudah menyalahi aturan, sesuai peraturan PP ambang batas bangunan maksimal satu meter dalam di bibir arus sepadan irigasi. Kenyataannya bangunan itu hanya berjarak setengah meter dan tidak bisa dilewati.

Sementara menurut Fahmi Kabid Laboratorium di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pemkab Trenggalek yang merangkap Plt Kabid Perawatan Jalan dan Jembatan mengatakan, seharusnya ketika akan mendirikan bangunan permanen yang letaknya di dekat bibir arus sepadan irigasi harus izin terlebih dahulu, apa lagi juga merupakan akses jalan menuju lahan pertanian.  Sehingga tidak menuai protes dari warga yang merasa dirugikan.

“ Terkait bangunan permanen ini, kami akan menerjunkan tim tehnis bidang tata ruang dan bangunan untuk mensurvai. Hal ini kami lakukan untuk memastikan bangunan yang meresahkan warga khususnya para petani layak atau tidak,’’ pungkas Fahmi.

Reporter : Suparni

Editor      : Hamzah Abdillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.