Jajakan Dobel L, Peternak Lele Dibekuk

Share this :

Nganjuk, koranmemo.com – Usai pamer tangkapan narkoba dengan menggelar konferensi pers, Satresnarkoba Polres Nganjuk kembali membekuk 3 penjaja pil dobel L, yang salah satunya peternak lele, Rabu (30/10/2019) sekitar pukul 01.00 WIB.

Ketiga tersangka berasal dari Kabupaten Nganjuk. Mereka adalah, Iwan Muchlisun (37) buruh harian lepas asal RT 02/RW 15 Dusun Banaran Desa Watudandang Kecamatan Prambon, Didik Prasetyo (27), dan A. Rokim (37) si peternak lele, keduanya asal Dusun Plosorejo Desa Tanjungkalang Kecamatan Ngronggot.

“Ketiga tersangka ditangkap dalam waktu dan tempat berbeda. Saat ini ketiganya masih menjalani penyidikan untuk pengembangan kasus,” kata AKP Moh. Sudarman Kasubbag Humas Polres Nganjuk saat dikonfirmasi, Rabu (30/10/2019).

Sudarman menjelaskan, awalnya petugas mengamankan seorang perempuan berinisial YY saat makan di warung  Lingkungan Bulakrejo Kelurahan Warujayeng Kecamatan Tanjunganom. Saat digeledah, didapati 17 butir pil dobel L di saku celana belakang sebelah kanan.

“YY mengaku jika pil itu dibelinya dari Iwan Muchlisun, yang kebetulan berada di warung. Akhirnya Iwan ditangkap petugas dan mengaku jika pil dobel L dibeli dari Didik Prasetyo. Waktu Iwan digeledah, kedapatan barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 150 ribu dan sebuah ponsel,” ujar Sudarman.

Akhirnya tersangka Didik dapat dibekuk di tempat pemancingan ikan Desa Kedungombo Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk. Saat dilakukan penggeledahan tidak didapati barang bukti, namun yang bersangkutan mengakui perbuatannya.

Sementara itu, Kasat Resnarkoba Polres Nganjuk Iptu Pujo Santoso SH mengatakan, setelah dilakukan introgasi terhadap tersangka Didik Prasetyo, dia mengaku mendapatkan Pil dobel L dari A. Rokim peternak lele.

“Tersangka Rokim kami ringkus di rumahnya pada Rabu, 30 Oktober 2019 sekitar pukul 01.00 WIB. Barang bukti yang kami amankan dua buah tas plastik, 20.005 butir pil dobel L, uang tunai sebesar Rp. 200 ribu, dan sebuah ponsel,” tukasnya.

Menurut Pujo, ketiganya tanpa keahlian dan kewenangan dengan sengaja mengedarkan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar sebagaimana dimaksud dalam uraian pasal 196 junto pasal 98 ayat (2), (3) UURI nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan junto pasal 55 ayat (1) ke 1e. “Guna kepentingan penyidikan, ketiganya dilakukan penahanan,” tegasnya.

Reporter : Muji Hartono
Editor      : Achmad Saichu