Jadi Tuan Rumah ICF, Pemkab Berencana Kembangkan Konsep Nomadic Tourism di Tebing Spikul

Trenggalek, koranmemo.com – Tebing Spikul Trenggalek terpilih sebagai lokasi pelaksanaan Indonesia Climbing Festival (ICF) etape ke tiga, 21 hingga 22 Juni. Event tahunan berskala nasional itu sekaligus menjadi momentum Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek untuk mempromosikan wisata minat khusus yang dimiliki Bumi Menak Sopal, sebutan lain Kabupaten Trenggalek. Sebab, selain via ferrata di tebing tertinggi di Jawa Timur, Kabupaten Trenggalek memiliki potensi wisata minat khusus lainnya yang tak kalah menarik.

Wisata minat khusus lainnya yang dimaksud adalah pengembangan pengelolaan destinasi wisata yang selama ini dinilai masih stagnan. Inovasi wisata minat khusus itu nantinya bakal merambah bukan hanya di wisata yang memacu adrenalin di ketinggian, melainkan juga pengembangan wisata yang memacu adrenalin di kedalaman. Sebab, kabupaten di pesisir selatan Pulau Jawa ini kaya akan berbagai bentuk potensi pariwisata.

“Karena Watulimo ini banyak spot yang bagus. Mulai tebing kita punya, gua, air terjun, sungai, mangrove. Pantai dari yang pasirnya cokelat sampai putih, sampai yang bebatuan kita punya. Jadi kita pengen Watulimo itu jadi paket lengkap, orang bisa adventure, wisata di sini banyak pilihan. Salah satunya destinasi yang ingin kami kembangkan, Spikul ini,” kata Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin seusai membuka acara ICF.

Pengembangan nomadic tourism  ini diantaranya adalah mengadopsi konsep dari Peru, yaitu tempat penginapan seperti tenda-tenda yang bergelantungan di ketinggian. Konsep ini dinilai lebih realistis untuk diterapkan sesuai kondisi topologi Kabupaten Trenggalek. Sebab selama ini fasilitas penginapan khususnya di wisata minat khusus via ferrata di Tebing Spikul belum memadai. Dalam jangka panjang Mas Ipin sapaan akrabnya berharap adanya home stay untuk wisatawan.

“Jadi nanti yang banyak ada tenda-tenda di tebing, glamping camp, mungkin nanti mobil caravan. Jadi nanti bisa sepaket, sewa mobil sekaligus tempat tidurnya. Nanti kita siapkan spot untuk tempat istirahat, ada toilet dan kamar mandinya. Itu jadi pilihan menarik dan masuk akal di Kabupaten Trenggalek. Karena kendala kita soal penginapan atau hotel belum ada di sini. Kita sudah menggelar lelang investasi, untuk pembangunannya pun nantinya  tidak membutuhkan waktu yang sebentar,” ujarnya.

Namun untuk mewujudkan itu, Mas Ipin menilai perlu dukungan semua pihak. Misalnya dalam pengelolaan dan keterlibatan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam dengan tidak membuang sampah sembarangan. Peran masyarakat dinilai sangat penting utamanya dalam mendukung program pemerintah, diantaranya adalah rencana perbaikan akses menuju Tebing Spikul hingga penambahan fasilitas penunjang lainnya.

“Ini (sembari mengacungkan sampah plastik,red) yang nggak baik. Saya cuman ngasih edukasi sederhana saja, saya minta sedekah partisipasinya saja. Jika menemukan sampah plastik, dipungut dan dibuang pada tempat sampah. Kalau belum menemukan tempat sampah, kantongi dulu lalu buang pada tempatnya. Karena wisatawan itu membutuhkan keindahan, kami perlu dukungan semua pihak, termasuk peran andil masyarakat,” pungkasnya.

Wiwik Yuniasih, Ketua Panitia ICF menilai Tebing Spikul tepat menjadi lokasi pelaksanaan ICF etape ketiga karena merupakan tebing tertinggi di Jawa Timur. Selain itu, panorama alamnya yang indah serta kearifan lokalnya menjadi alasan pelaksanaan ICF diselenggarakan untuk pertama kalinya di Kabupaten Trenggalek. Selain di Trenggalek, ICF juga diselenggarakan di empat daerah lainnya, meliputi Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Bali.

“Dalam dunia climbing, misal saat manjat di Tebing Parang dengan di sini beda, auranya beda, budayanya beda, masyarakatnya beda. Sama-sama Jawa, saat saya disini setiap ketemu orang bilang ‘nggih monggo mbak’ ramah banget. Mungkin itu nantinya membuat tamu-tamu yang datang disini betah, karena ada interaksi. Ini keren lho, ibu-ibu PKK juga turun untuk ikut berjualan,” sembari menyebut kearifan lokal warga lainnya yang memiliki karakteristik berbeda sepanjang ia menggeluti olahraga pacu adrenalin itu.

Dalam event ini, setidaknya sebanyak 200 pemanjat ditargetkan bakal ikut ICF di Tebing Spikul. Ratusan peserta itu berasal dari berbagai daerah, misalnya dari Karisidenan Kediri, Surabaya, hingga Bandung Jawa Barat. Setidaknya sebanyak tujuh jalur dengan ketinggian 30 meter dan kemiringan kurang dari 90 derajat telah dibuka oleh panitia penyelenggara. Jalur itu termasuk tiga jalur yang baru saja dibuka khusus untuk pemula.

“Namun demikian, di sini belum terkumpul (banyak jalur dibuka, red) bisa jadi buku. Mungkin nanti dari federasi panjat tebing, untuk mengumpulkan data jalur-jalur itu. Banyak sih, cuman siapa yang bikin, greatnya berapa, hanger yang terpasang berapa belum terdata dengan lengkap.  Saya berharap pemerintah, lewat Disparbud membantu untuk membukukan, kalau bisa,” pungkasnya.

Untuk diketahui,  ICF adalah festival panjat tebing berskala nasional yang berlangsung sejak 8 Juni hingga 29 Juni di empat daerah, yakni Tebing Badega Parang Purwakarta, Tebing Gunung Api Nglanggeran Yogyakarta, Tebing Songan Bali dan Tebing Spikul Trenggalek. Tebing Spikul menjadi lokasi pelaksanaan etape ke tiga, 21 sampai 22 Juni. (adv/Disparbud Trenggalek)

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date