IPA PDAM Trenggalek Sumber Bayong Kembali Beroperasi

Trenggalek, Koranmemo.com – Instalasi pengelolaan air (IPA) milik PDAM Trenggalek Sumber Bayong kembali beroperasi. Sebelumnya tempat penampungan air pertama (intake building) sumber air Bayong di Desa Boto Putih Kecamatan Bendungan tertimpa longsor, Minggu (3/11) sehingga distribusi air ke pelanggan dihentikan sementara. Operasional distribusi air ke pelanggan pasca perbaikan dipastikan normal.

Direktur PDAM Trenggalek, Mariyati mengatakan, perbaikan saluran di tempat penampungan pertama setelah sumber air itu berlangsung cukup lama. Pasalnya lumpur akibat longsor memenuhi ruangan sehingga harus di kuras. “Belum lagi lumpur yang ikut terdistribusi ke instalasi bersama air juga harus dibersihkan. Karena kami sempat kecolongan sehingga air ke pelanggan keruh,” jelasnya.Saat ini, lanjut Mariyati, pihaknya memastikan distribusi air sudah berangsur normal sehingga kebutuhan lebih dari 6 hingga 7 ribu pelanggan yang tersebar di lima kecamatan tercukupi. Lima kecamatan itu meliputi Trenggalek, Bendungan, Karangan, Tugu dan Pogalan. “Sudah operasi pasca perbaikan Senin lalu, tapi untuk distribusi merata membutuhkan waktu 3 sampai 4 hari,” kata Mariyati.

Air keruh yang dikeluhkan pelanggan karena lumpur ikut tercampur distribusi air akibat longsor bukan pertama kalinya terjadi. Kondisi geografis sumber air yang berada di lereng tengah hutan rawan terjadi longsor saat musim penghujan. “Sebetulnya sudah kami pasang bronjong dan penanggulangan lain. Lokasinya di hutan dekat perbatasan Nganjuk dan Ponorogo,” imbuhnya.

Selain mengandalkan sumber air dari sumber alam, pihaknya berencana menambah sumber air pengeboran sumur buatan di Desa Tumpuk Kecamatan Tugu. Sumber air Bayong menjadi satu-satunya mata air alami yang digunakan PDAM Trenggalek.  “Sudah kajian geolistrik (mencari mata air). Sumber (alam) satu saja, yang lain sumur buatan untuk lebih dari 14 ribu pelanggan,” jelasnya.

Mariyati mengatakan, pihaknya bakal menambah instalasi pengolahan air (IPA) di Kecamatan Bendungan. Penambahan IPA itu untuk memaksimalkan distribusi air hingga ke pelosok. Idealnya kapasitas produksi 90 liter per detik mampu untuk distribusi sekitar 7.200 pelanggan. “Nanti IPA yang baru dihibahkan akhir Desember, jadi cukuplah,” kata dia.

Dengan penambahan IPA itu pihaknya bisa meminimalisir tersendatnya suplai air ke pelanggan saat musim penghujan. Kapasitas produksi IPA lama sebesar 50 liter per detik ditambah IPA baru sebesar 40 liter per detik dinilai cukup. Terlebih pengelolaan Sumber Bayong bisa mencapai produksi 190 liter per detik.

“(Distribusi) sumber ke IPA butuh waktu 3-4 jam. Sebetulnya kami berani produksi 60 sampai 70 liter per detik saat kemarau karena sumbernya jernih, kalau musim sebaliknya di paksakan akan keruh,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetiya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date