Ini Hukuman yang Cocok Bagi Murid Menurut Psikolog Pendidikan, Sanksi Fisik Belum Tentu Tepat

Kediri, koranmemo.com – Sanksi atau hukuman di lembaga pendidikan memang diharapkan dapat memberi pelajaran kepada siswa untuk mengetahui konsekuensi jika melakukan kesalahan. Namun, pemberian sanksi secara fisik dinilai dari kacamata pendidikan dan paikolog masih belum tepat.

Penilaian ini diutarakan Psikolog Pendidikan, Novi Wahyu Winastuti, hal ini terkait meninggalnya seorang siswa SMP swasta, FL (14) di Manado Sulawesi Utara, setelah mendapat hukuman lari keliling halaman sekolah pada Selasa (1/10) lalu. “Sebenarnya kalau memberikan hukuman sebaiknya disesuaikn dengan kondisi yang bersangkutan, sebaiknya tidak menggunakan hukuman fisik tapi hukuman yang lebih mendidik,” katanya, Senin (7/10).

Memberikan hukuman sebaiknya dikembalikan kepada anak (siswa), seharusnya dalam pembuatan peraturan dan pemberian sanksi pihak sekolah harus melibatkan siswa. Tujuannya, ada kesepakatan bersama antara siswa dan pihak sekolah serta guru memberikan sosialisasi keadaan siswa.

Jika sudah dikomunikasikan diawal pertemuan, diharapkan siswa dapat mengetahui peraturan apa saja yang ada disekolah dan konsekuensi apa yang akan diterima jika siswa melanggar. “Jadi, guru harus menjelaskan kepada siswa dan juga orang tua, konsekuensi apa yang diterima. Diupayakan tidak memberikan sanksi fisik, terkecuali jika sudah ada kesepakatan baik guru maupun siswa dan orang tua,” imbuhnya.

Dicontohkan, memberikan sanksi fisik jika dalam konteks saat mata pelajaran olahraga, guru tetap harus memperhatikan kondisi siswa. Guru tidak boleh tiba-tiba memberikan sanksi fisik dan tidak tepat sanksi tersebut tidak ada kesepakatan sebelumnya. Karena, kondisi setiap siswa pasti berbeda, guru yang mengabaikan hal tersebut jelas guru ini salah.

Siswa yang melanggar peraturan, sebaiknya guru menanamkan sikap tanggung jawab sebelum memberikan sanksi. Guru kembali mengingatkan kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya dengan siswa. “Misalnya ada beberapa siswa yang melanggar peraturan, guru mengingatkan konsekuensinya. Tapi, guru dan siswa juga bisa menyepakati sanksi, meskipun berbeda tapi tingkat beratnya sama,” ujarnya.

Novi menjelaskan, ada siswa yang memilih hukuman fisik seperti lari, tapi ada siswa yang memilih hukuman lain seperti menulis atau merangkum materi pelajaran. Meskipun demikian, yang paling penting adalah penyampaian guru kepada siswa. “Kalau penyampaian tepat tidak akan mempengaruhi psikologi siswa, jika penyampaiannya tidak tepat justru membuat siswa menyepelekan,” ujarnya.

Penerapan dan penyampaian yang tidak sesuai serta pelaksanaan peraturan tidak konsisten, siswa tidak hanya menyepelekan tapi juga merasa acuh pada peraturan yang ada, misalnya hanya siswa tertentu saja yang menerima sanksi. Jangan sampai dalam membuat peraturan hanya sepihak, tapi harus membuat bersama-sama.

Memang, sambungnya, peraturan selama ini hanya dipajang di dalam kelas, namun mengabaikan pemahaman kepada siswa. “Harapannya, siswa yang paham justru bukan guru lagi yang mengingatkan, tapi sesama siswa yang mengingatkan kepada teman lainnya. Terlebih lagi untuk siswa SMP dan SMA, karena tidak menutup kemungkinan penyampaian peraturan yang baik akan dipahami dan dipatuhi oleh siswa,” pungkasnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor Irwan Maftuhin

Follow Untuk Berita Up to Date