Ini Alasan Warga 2 Desa Tolak Rencana Pengeboran PT Lapindo Brantas Inc.

Share this :

Sidoarjo, koranmemo.com – Puluhan warga dari Desa Banjarasri dan Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo melakukan aksi penolakan keras terkait rencana pengeboran minyak yang dilakukan oleh pihak PT Lapindo Brantas Inc., Senin (3/12).

Dalam aksi tersebut, juga dilakukan pernyataan sikap oleh seluruh peserta aksi  yang didominasi ibu-ibu itu. Mulai berteriak lantang dan menunjukkan sejumlah tulisan dalam spanduk. Spanduk itu juga dibentangkan di beberapa titik di Desa Banjarmasin, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Tampak juga di sejumlah rumah warga di sana di tempel tulisan yang berisi penolakan pengeboran.

Aksi dan berbagai spanduk itu merupakan reaksi warga terhadap rencana pengeboran sumur baru oleh PT Lapindo Brantas Inc. Menurut beberapa warga, sekitar seminggu belakangan, di sumur TA 1 sudah ada aktivitas. Seperti perataan tanah, pembuatan sumur air dan beberapa aktivitas lain.

Namun saat warga datang dalam aksinya itu, aktivitas di sana tidak terlihat. Disinyalir, sengaja dihentikan saat tahu rencana aksi penolakan dari warga.

Menurut Astorif, warga Banjarasri, aksi tersebut sejatinya bukan demonstrasi. “Itu aksi spontan warga. Untuk mengecek sumur TA I, apakah ada aktivitas pengeboran baru atau tidak,” kata Astorif.

Diceritakan oleh pria 50 tahun tersebut, sebelumnya ada empat RT yakni RT 1 sampai RT 4 di Desa Banjarasri yang sudah dua kali bertemu dengan pihak PT Lapindo Brantas Inc. Pertemuan digelar di rumah makan di kawasan Kecamatan Candi, Sidoarjo.

Pertama pertemuan lapindo dengan 4 RT di Desa Banjarasri. Kemudian pertemuan kedua, RT yang diundang pada pertemuan pertama disuruh mengajak lima orang. Selain itu, disebutnya bahwa dalam pertemuan tersebut juga dihadiri Kades, BPD, empat RT dan perwakilan warga.

“Setelah tahu bahwa Lapindo berniat melakukan pengeboran lagi alias mengebor sumur baru, semua warga menolak,” tegas dia.

Astorif menjelaskan bahwa jarak TA I dengan lokasi rencana pengeboran sumur baru hanya sekitar 100 meter. Sedangkan sumur lama dengan pemukiman warga sekitar 70 meter.

“Warga masih trauma dengan kejadian semburan lumpur Lapindo. Seharusnya Lapindo bisa meyakinkan bahwa peristiwa itu tidak akan terulang,” lanjutnya.

Dikonfirmasi mengenai hal ini, Ikhwan selaku humas PT Lapindo Brantas di Sidoarjo menyampaikan bahwa selama ini memang Lapindo belum melakukan sosialisasi terkait rencana pengeboran sumur baru.

“Pertemuan yang digelar itu merupakan pra sosialisasi. Lapindo memang belum melakukan sosialisasi ke warga,” ungkap Ikhwan.

Menurut dia, aksi yang dilakukan oleh warga itu sebagai bentuk antisipasi tentang rencana kegiatan Lapindo Brantas di sana. Disebutnya, itu hanya cari perhatian publik, agar kegiatan Lapindo digagalkan.

Aksi penolakan keras dalam bentuk unjuk rasa tidak berlangsung lama. Usai bergantian orasi mereka membubarkan diri dengan tertib.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, beberapa waktu lalu, pemerintah baru saja memperpanjang kontrak Lapindo Brantas untuk mengelola blok Brantas selama 20 tahun terhitung sejak tahun 2020. Artinya Lapindo bakal terus melakukan eksplorasi di Sidoarjo sampai tahun 2040 mendatang.

Reporter Yudhi Ardian

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date