Inggris Tidak Menerima Pekerja yang Tidak Bisa Bahasa Inggris

London, koranmemo.com – Inggris akan menutup perbatasannya dari pekerja yang tidak dapat berbicara bahasa Inggris dan mereka yang tidak memiliki keterampilan. Langkah ini bertujuan untuk merombak hal mendasar dari undang-undang imigrasi. Selain itu langkah ini juga akan mengakhiri era tenaga kerja murah dari Uni Eropa di pabrik, gudang, hotel dan restoran.

Dengan mengadopsi sistem dari Australia yang diresmikan pada Rabu (19/2), pemerintah mengatakan, ini merupakan kesempatan berharga untuk mengatur secara penuh perbatasan Inggris. Sebelumnya, dalam beberapa dekade terakhir Inggris mengalami distorsi oleh peraturan Uni Eropa yang menyebabkan semua warga yang tergabung dalam negara Uni Eropa bebas berpergian ke seluruh wilayah Uni Eropa.

Menanggapi kebijakan baru tentang kualifikasi tenaga kerja di Inggris, para pemimpin industri di Inggris merasa khawatir dengan kelanjutan perekonomian Inggris. Mereka berpendapat kebijakan ini akan berdampak terhadap hilangnya pekerjaan dan penutupan pabrik-pabrik. Industri pengolahan makanan, perhotelan, dan penyedia jasa yang sangat bergantung pada pekerja dari Uni Eropa adalah industri yang akan terkena dampak paling besar.

“Pekerja yang dianggap pemerintah berketerampilan rendah itu, sangat penting untuk pertumbuhan dan kesejahteraan dalam berbisnis. Kebijakan ini tentu mengancam orang-orang yang dibutuhkan untuk melayani masyarakat,” ujar Direktur Kebijakan Serikat Perekrutan dan Ketenagakerjaan, Tom Hadley dikutip dari The Guardian.

Senada dengan apa yang dikatakan Tom, CEO UKHospitality, Kate Nicholls mengatakan, dengan melarang pekerja berketerampilan rendah selama 10 bulan saja, akan menjadi mimpi buruk bagi industri perhotelan. Selain itu, hal ini juga akan menghambat investasi pada industri ini.

Serikat Industri Inggris juga menyampaikan kekhawatiran yang sama terkait pekerja dengan ketrampilan rendah. “Beberapa sektor industri akan kebingungan dengan bagaimana cara mendapatkan pekerja yang diperlukan untuk menjalankan bisnis mereka,” ujar Direktur Utama Serikat Industri Inggris. Carolyn Fairbairn.

Carolyn juga mengatakan, dengan tingkat pengangguran yang rendah di Inggris, perusahaan yang bergerak dalam bidang perhotelan, konstruksi, pelayanan jasa, makanan dan minuman akan sangat terpengaruh. “Sektor perhotelan yang bergantung dengan pekerja dari Uni Eropa untuk pekerjaan seperti membersihkan kamar, penerima tamu, keamanan, dan memasak akan sangat kebingungan dengan peraturan baru ini,” ujarnya.

Reporter: Ahmad Bayu Giandika

Editor: Della Cahaya