Imbauan MUI Jatim Tentang Salam Lintas Agama, Ini Tanggapan PWNU Jatim

Share this :

Surabaya, koranmemo.com  – Majelis Ulama Indonesia (MUI) wilayah Jawa Timur beberapa waktu lalu mengeluarkan imbauan kepada para pejabat muslim agar menggunakan salam secara islam saat sambutan di dalam forum. Imbauan dari MUI Jatim tersebut terlampir dalam surat dengan nomor 110/MUI/JTM/2019 yang meminta para umat muslim membaca salam sesuai dengan tata cara islam dan tidak memakai salam agama-agama dalam sambutannya.

Menanggapi hal tersebut, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim melalui Katib Syuriyah PWNU Jatim, KH. Syafruddin Syarif mengatakan salam yang paling utama untik diucapkan pejabat sesuai ajaran Islam ialah Assalamualaikum. Pernyataan tersebut diungkapkan pasca dilakukannya bahtsul masail yang mengkaji imbauan tersebut.

Katib syuriah PWNU Jatim tersebut tidak melarang pengucapan salam agama-agama. Menurutnya salam agama-agama tersebut bisa diucapkan demi kemaslahatan antar umat beragama.

“Bagi pejabat Muslim, dianjurkan mengucapkan salam dengan kalimat Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, atau diikuti dengan ucapan salam nasional seperti selamat pagi. Namun demikian dalam kondisi dan situasi tertentu, demi menjaga persatuan bangsa, dan menghindari perpecahan, pejabat muslim juga diperbolehkan menambahkan salam lintas agama,” kata Katib Suriyah PWNU Jatim, KH Syafruddin Syarif saat konfernsi pers di Kantor PWNU Jatim, Surabaya (12/11/2019).

Syafruddin juga mengatakan bajwa Islam merupakan agama rahmatam lil alamin. Dalam konsep sebagai rahmatan lil alamin, menurutnya Islam selalu menebarkan pesan kedamaian. “Pesan kedamaian dalam wujud menebarkan salam secara verbal juga telah menjadi tradisi agama tauhid sejak Nabi Adam alaihissalam yang terus diwarisi hingga sekarang,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, terkait polemik baru-baru ini mengenai edaran dari MUI Jatim tersebut, dirinya menampik adanya kesan bahwa pihaknya mengcounter pendapat MUI Jatim.

“PWNU Jawa Timur mengadakan kajian terkait polemik tersebut dan itulah jawaban kami. Kalau ada maslahat kemudian ada hajat untuk mengucapkan salam lintas agama, kami tidak melarang dan tidak menyuruh. Hanya kalau tidak ada hal yang diperlukan sebaiknya tidak usah salam lintas agama tapi kalau ada maslahat, ya silahkan,” pungkasnya.

Reporter: Dimas Mahendra
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date