HUT Kemerdekaan RI di Tengah Pandemi, Omzet Penjual Bendera Anjlok

Nganjuk, koranmemo.com – Omzet penjual bendera menjelang detik-detik peringatan hari kemerdekaan Indonesia pada tahun ini menurun secara drastis. Pembatasan kegiatan karnaval karena adanya pandemi Covid-19 disebut-sebut sebagai salah satu penyebab omzet penjualan bendera anjlok.

Seperti yang dikeluhkan Gatot (58) salah satu penjual bendera di pinggir jalan Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk. Ia menyebut omzet penjualan bendera per hari paling mentok hanya menyentuh angka ratusan ribu rupiah. Padahal di tahun-tahun sebelumnya omzet penjualan bendera dalam sehari bisa menyentuh jutaan rupiah.

“Kalau musim seperti ini maksimal sehari hasil jualan ratusan ribu rupiah. Kebanyakan yang beli dari perangkat desa untuk menghiasi kampung dengan umbul-umbul dan bendera. Padahal kalau kondisi sedang normal, di tahun-tahun sebelumnya sehari bisa dapat jutaan rupiah,” ungkapnya.

Gatot menyebut salah satu penyebab turunnya omzet penjualan bendera lantaran sepinya kegiatan karnaval ataupun peringatan hari kemerdekaan akibat pandemi. Pria yang sehari-hari menjadi tukang becak ini mengeluhkan penurunan omzet secara drastis dibanding tahun lalu. Mengingat kebutuhan hidup bersama keluarga tetap tinggi di kala penghasilan menurun drastis.

“Pembeli bendera atau umbul-umbul di tahun sebelumnya kebanyakan dari kalangan pemilik event peringatan Agustusan. Kalau di tahun ini kan tidak ada yang seperti itu karena musibah Covid,” keluhnya.

Gatot pun menyebutkan harga barang dagangan yang diikat pada sebuah pohon di pinggir jalan. Bendera merah putih ukuran kecil dibanderol Rp 10 ribu, yang ukurannya 1 meter dibanderol Rp 35 ribu. Lalu umbul-umbul semua dibanderol Rp 35 ribu dan bendera yang memanjang kesamping dibanderol Rp 50 ribu sampai ratusan ribu bergantung pada ukuran.

“Paling sering laku umbul-umbul yang warnanya merah putih polos. Makanya ini barangnya tidak ada karena stok habis terjual kemarin,” katanya.

Hal senada disampaikan Tirno (40) penjual bendera yang membuka lapak di pinggir jalan Warujayeng Kabupaten Nganjuk. Dia terpaksa melempar beberapa dagangannya ke tempat-tempat yang ramai pembel lantaran penjualannya merosot tahun ini.

“Penjual sama-sama mengambil barang dagangan dari Provinsi Jawa Barat. Meskipun kondisi seperti ini kami tidak mau banting harga. Alhasil harga penjualan tetap seperti pasaran, meski sepi tidak masalah asalkan pemasukan tetap ada,” kata Tirno.

Keedua penjual bendera tersebut berharap agar musibah pandemi ini segera berlalu. Mereka berharap agar pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kembali membaik seperti sedia kala.

Reporter Andik Sukaca Inna Dewi Fatimah

Editor Achmad Saichu