Hendro Prayitno, Kuncen Makam Kanjeng Jimat

Share this :

Pernah Mengusir Peziarah Karena Tak Pernah Mandi

Nganjuk, Koran Memo – Hampir di setiap makam pasti memiliki seorang kuncen atau juru kunci. Mereka sekalipun tidak pernah mencalonkan diri untuk kedudukan atau pekerjaan itu. Mereka adalah orang-orang terpilih. Bisa yang masih muda, ataupun yang sudah tua baik secara turun temurun, maupun berdasarkan silsilah yang jarang diketahui orang lain. Bukan soal mistis atau gaib. Tetapi para juru kuncilah yang selama ini memegang tanggungjawab untuk merawat dan menjaga kondisi makam tersebut.

Hendro Prayitno, juru kunci makam Kanjeng Jimat (kurniawan/memo)
Hendro Prayitno, juru kunci makam Kanjeng Jimat (kurniawan/memo)

Pagi itu, seperti biasa, di makam Kanjeng Jimat Sosrokusumo, tepat sebelah barat masjid seorang pemuda terlihat sibuk menata dan membersihkan area makam. Pemuda tersebut tidak lain adalah Hendro Prayitno, sang juru kunci makam Raden Tumenggung Sosrokusumo atau yang lebih dikenal dengan nama Kanjeng Jimat.

Setiap hari, pemuda 30 tahun tersebut selalu datang ke makam bupati pertama Nganjuk tersebut. Setiap sudut makam tak luput dari perhatiannya. Hendro harus memastikan bahwa area makam Kanjeng Jimat selalu bersih sehingga para peziarah betah dan tidak kecewa. “Saya harus memastikan area makam bersih saja. Agar yang datang menjadi betah,” ujarnya.

Ada lebih dari ratusan makam yang setiap hari dibersihkan oleh Hendro. Area pemakaman yang berada tepat di sisi barat Masjid Al Mubarok, yakni masjid yang didirikan langsung oleh Kanjeng Jimat tidak lama setelah didaulat menjadi Bupati Berbek pada masa itu memang setiap hari ramai dikunjungi peziarah. Baik dari daerah sekitar Nganjuk, maupun dari wilayah yang jauh.

Sudah 1 tahun Hendro menjadi juru kunci makam Kanjeng Jimat. Hendro merupakan juru kunci keempat menggantikan kakaknya yang kini telah meninggal. Penunjukan Hendro menjadi juru kunci dilakukan berdasarkan rapat keluarga besar Kanjeng Jimat yang kini masih hidup. Termasuk keluarga Hendro yang juga masih memiliki silsilah keturunan dari Kanjeng Jimat.

Saat ditunjuk menjadi juru kunci, Hendro mengaku siap menjalani tugas tersebut. Satu yang menjadi niatan awal Hendro, adalah untuk mengabdikan diri dan merawat makam Kanjeng Jimat dengan sebaik-baiknya. “Yang penting niat saya untuk merawat area makam ini,” ujarnya.

Menjalani profesi menjadi juru kunci memang jarang dilakoni seseorang. Terlebih lagi apabila dikaitkan dengan penghasilan. Hendro mengaku tidak berharap banyak dari hal tersebut. Dengan memaksimalkan dirinya untuk mengabdi, Hendro mengaku bisa mendapatkan ketenangan hati. “Kalau di sini niatnya hanya mengabdi saja. Itu saja sudah bikin hati tenang,” imbuhnya.

Meski merupakan juru kunci yang dibilang masih muda, Hendro mengaku tidak pernah minder. Bahkan dengan teman sebayanyapun, Hendro tetap bergaul layaknya warga biasa. Hendro tidak pernah menetapkan aturan-aturan yang terlalu rumit kepada para peziarah. Yang terpenting adalah mereka bisa selalu menjaga sikap sekaligus ikut menjaga kondisi makam agar selalu bersih. “Pernah ada orang yang menginap di sini berhari-hari. Saya usir karena dia tidak pernah mandi. Jadinya mengganggu peziarah yang lain,” ungkapnya.

Selama menjadi juru kunci makam Kanjeng Jimat, Hendro merasa seperti menjadi seorang artis. Itu lantaran ia merupakan satu-satunya orang yang paling dicari peziarah saat berkunjung ke makam. Baik masyarakat biasa, hingga pejabat yang memiliki kedudukan menteri. “Rasanya seperti jadi artis. Dicari orang banyak, termasuk menteri,” ujarnya.

Hendro berharap, seluruh peziarah yang datang ke makam Kanjeng Jimat bisa terus ikut menjaga dan melestarikan seluruh yang ada di area makam. Lantaran makam Kanjeng Jimat merupakan tempat bersejarah dan sakral serta ikon Kabupaten Nganjuk.(rochmatullah kurniawan)

Follow Untuk Berita Up to Date