Hendak Dikibarkan, Bendera Jadi ‘Kupu-kupu’

Share this :
Tidak Pas : Hendak dikibarkan bendera meluntir menyerupai kupu-kupu (ist)
Tidak Pas : Hendak dikibarkan bendera meluntir menyerupai kupu-kupu (ist)

*Upacara detik-detik Proklamasi Diwarnai Insiden Mengejutkan

Nganjuk, Memo-Upacara detik-detik Proklamasi 17 Agustus 2014 di Alun-Alun Nganjuk diwarnai insiden mengejutkan. Prosesi pengibaran bendera merah putih tidak berjalan mulus. Ketika hendak dikibarkan, bendera membelit menyerupai kupu-kupu sebelum aba-aba siap dikibarkan. Karuan saja membuat terkejut seluruh peserta upacara yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB tersebut.

Pantauan wartawan di lapangan, prosesi pengibaran bendera tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kesalahan setelah bendera diterima dari tangan Bupati Nganjuk Drs. H. Taufiqurrahman selaku inspektur upacara pagi itu.

Semua berjalan lancar, hingga petugas penerima bendera kembali ke barisan bersama dua petugas lainnya. Suasana pun berlangsung khidmat, menyusul ketiga petugas pengibar bendera siap-siap mengibarkan bendera. Dua petugas kanan dan kiri dengan sigap bergerak maju, beranjak ke tiang bendera sambil melepas tali yang dililitkan pada pangkal tiang bendera tersebut.

Petugas yang satu menarik tali hingga posisi tali lurus dan petugas satunya melepas sambungan dimana kedua ujungnya akan dikaitkan dengan ujung-ujung bendera. Sedang petugas satunya, perempuan yang berposisi di tengah tetap berdiri lurus tiang bendera sambil menengadahkan bendera yang baru saja didapat dari inspektur upacara.

Kedua ujung tali pun mulai dikaitkan pada kedua ujung bendera dari tangan petugas di tengah. Posisi warna merah di atas, sedang putih di bawah. Artinya persiapan pengibaran bendera bisa dimulai.

Runyamnya, terkejut bukan kepalang ketika tangan kanan petugas di sisi Barat tiang bendera meraih ujung bendera warna merah dan tangan krinya meraih ujung warna putih, lantas menariknya kencang-kencang. Insiden memalukan telah terjadi, bendera tidak terbentang sempurna, melainkan melilit hingga menyerupai sayap kupu-kupu.

Sepontan, suara gemuruh dari peserta upaca pecah dalam keheningan upacara sakral tersebut hingga beberapa menit. Prosesi pengibaran bendera pun tetap berjalan, setelah petugas berusaha membetulkan kesalahannya, hingga aba-aba bendera siap dikibarkan terdengar.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Pemkab Nganjuk, Drs. Suhariyono mengaku, kesalahan bukan terletak pada pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka). Melainkan, sepenuhnya adalah kesalahan pelatih dan dirinya selaku Kasat Pol PP sebagai salah satu penanggung jawab jalannya upacara Detik-detik Proklamasi, memperingati hari ulang tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke 69.

“Sepunuhnya kesalahan itu ada pada kami, jangan anak-anak (Paskibraka, Red) yang disalahkan,” ucap Suhariyono usai prosesi pengibaran bendera berlangsung, meski sebelumnya langsung menimpakan kesalahan kepada petugas Paskibraka.

Diakui, sebelum pelaksanaan upacara seharusnya petugas mengecek persiapan terlebih dulu, khususnya kesiapan petugas pengibar bendera. Meski berkali-kali mengingatkan, baik kepada pelatih maupun petugas pengibar bendera agar berhati-hati jangan sampai terjadi kesalahan, namun khusus pengecekan mengibarkan bendera tidak dilakukan. “Salahnya, saya (Suhariyono, Red) tidak ngecek lagi, ya begini hasilnya,” akunya.

Yuli Sutrisno, pelajar yang pernah bergabung sebagai anggota Paskibraka menduga kesalahan proses pengibaran bendera terletak pada tata cara melipat sebelum diserahkan kepada petugas. Pasalnya, petugas sudah melaksanakan urutan proses pengibaran bendera sesuai dengan latihan. Saat bendera hendak dikibarkan, tangan kanan memegang ujung bendera warna merah, sedang tangan kiri memegang ujung warna putih. Apalagi, pengait sudah sesuai posisinya, yakni yang atas mengait pada ujung warna merah, sedang yang bawah pada warna putih.“Itu sudah sesuai latihan, kalau tangan kanan memegang ujung warna merah, dan yang kiri memegang warna putih,” ujar pelajar SMAN 3 Nganjuk itu.

Terpisah, salah satu pembina Paskibraka Kabupaten Nganjuk 2014 menyampaikan, ketika terjadi kesalahan dalam pelaksanaan upacara bendera, seharusnya komandan upacara langsung memberikan aba-aba balik kanan kepada seluruh pasukan upacara. Baru kemudian, setelah kesalahan telah dibenahi dan upacara siap dilaksnakan, pasukan dalam posisi semula. “Itu kalau di Batalyon, bila terjadi kesalahan saat upacara bendera, bukan hanya sanksi penurunan pangkat, tapi juga sanksi fisik,” terang salah anggota pembina Paskibraka dari TNI tersebut.

Sekedar diketahui, usai upacara detik-detik proklamasi HUT RI ke 69, seluruh petugas Paskibraka langsung dibawa masuk Ruang Anjuk Ladang oleh pembinanya. Hanya, sebelum masuk ruangan, diwarnai isak tangis histeris beberapa anggota Paskibraka. Hingga dalam ruangan, petugas paramedis harus disibukkan oleh beberapa anggota Paskibraka yang tidak sadarkan diri. Sayangnya, pembina Paskibraka melarang wartawan meliput kejadian yang sedang berlangsung dalam ruang Anjuk Ladang tersebut. (gus)