Hasil Laboratorium Positif Anthrax

Dokter Hewan Kabupaten Blitar saat melakukan uji lab salah satu sample yang diberikan warga (ducan/memo)
Dokter Hewan Kabupaten Blitar saat melakukan uji lab salah satu sample yang diberikan warga (ducan/memo)

*Penyebab Matinya Belasan Sapi Perah

Blitar, Memo

 Kematian mendadak 14 ekor sapi perah milik warga Srengat Kabupaten Blitar dipastikan karena anthrax. Hal ini diketahui, Kamis (11/12) setelah dinas peternakan setempat membeberkan hasil pemeriksaan laboratorium Yogyakarta terhadap sampel bagian tubuh sapi. Pengujian itu dilakukan selama 14 hari.

Mashudi, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Blitar mengatakan hasil uji laboratorium menunjukkan jika contoh salah satu bagian tubuh sapi tersebut sudah terkena bakteri anthrax. “Sample tersebut setelah diuji lab ternyata positif anthrax,” ungkapnya.

Meski demikian, Mashudi menegaskan jika belasan sapi perah yang mati tersebut belum bisa dikatakan seluruhnya positif anthrax. Sebab, pihak laboratorium baru bisa menyatakan kematian belasan sapi tersebut setelah adanya hasil uji lab. “Kami tidak bisa memvonis semuanya terkena anthrax. Sebab itu harus diuji lab semua. Kemarin yang kita ketahui hanya satu. Jadi yang berani kami katakan ya hanya satu,” jelasnya.

Dia menambahkan, untuk antisipasi penyebaran penyakit tersebut ke hewan lain, sejak Senin (9/12) kemarin Dinas Peternakan Kabupaten Blitar sudah melakukan vaksinasi kepada seluruh hewan ternak milik warga.

Masih kata Mashudi, penyakit anthrax seperti yang ditemukan di Srengat masih dapat disembuhkan. Sebab sejak dini langsung dilakukan tindakan antisipasi dan sterilisasi lokasi. “Untung saja langsung kita ketahui indikasinya. Saat itu juga semua sapi yang ada di lokasi langsung kita berikan vaksin dan lokasinya kita sterilisasikan. Sehingga diprediksi bakteri tersebut mati,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 14 sapi perah milik Yudiono (39) warga Kendalrejo Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar, Kamis (4/12) mati mendadak. Akibatnya pemilik mengalami kerugian sekitar Rp 238 juta. RPH Kota Blitar yang sempat kedapatan menerima satu sapi milik Yudiono langsung melakukan sterilisasi kandang darurat agar bakteri penyebaran penyakit diduga anthrax tersebut musnah.(can)

Follow Untuk Berita Up to Date