Hari Pertama Sekolah, Orangtua Dampingi Anak

Share this :

Kediri, koranmemo.com – Hari pertama masuk sekolah setelah proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2019/2020, para orangtua memilih untuk mendampingi anak hingga jam kegitan belajar mengajar (KBM) berakhir. Ini dilakukan untuk menciptakan rasa nyaman dan orangtua mengetahui kegiatan apa saja yang ada di sekolah.

Salah satu orangtua asal Kelurahan Mojoroto, Wahyu (33), memilih mendampingi anaknya pada hari pertama masuk sekolah bersama sang istri. Bukan karena khawatir jika anak mereka rewel, mereka justru penasaran seperti apa tingkah laku anak di lingkungan, suasana, dan bertemu dengan teman baru. “Kan jenjang sekolah juga tidak seperti TK, jadi ingin lihat apa saja kegitan anak saya,” ucapnya, Senin (15/7).

Hal senada juga diutarakan Kusuma Wiyono, orangtua murid lainnya, tidak hanya ingin melihat kegiatan sang anak di lingkungan sekolah yang baru, ia juga ingin membuat anaknya merasa nyaman terlebih dahulu. Selama dua hari ke depan pendampingan terus dilakukan, tapi tidak selalu berada di sekitar kelas. Ini juga untuk melatih keberanian anak sehingga lebih mudah berkomunikasi dengan teman yang lain.

Selain ingin mengetahui kegiatan anak di sekolah, para orangtua juga mencari informasi terkait proses KBM, terlebih lagi untuk jadwal pelajaran yang akan diterima siswa. Meskipun selama MPLS, siswa belum memperoleh materi pelajaran dari pendidik. “Selama tiga hari mulai tanggal 15 sampai 17, peserta didik baru dibiasakan mengikuti kegiatan di sekolah,” ujar Dukut Waryanto, Kepala SD Negeri Mojoroto I.

Tenaga pendidik, lanjutnya, tidak hanya mengenalkan lingkungan dan sarana prasarana sekolah, tapi juga memberi tahu tata cara belajar di sekolah. Terutama pembiasaan kepada peserta didik baru, seperti adab sopan santun baik dalam hal perkataan maupun tindakan di sekolah. Tidak hanya sopan terhadap tenaga pendidik, namun juga saling menghargai kepada teman yang lain.

Menurut Dukut, untuk membiasakan serta menciptkan suasana yang nyaman di lingkungan sekolah, tenaga pendidik juga perlu mengenal karakter dan kepribadian siswa. “Kita coba ajak bernyanyi, tidak hanya lagu anak-anak tapi juga lagu nasional sehingga ras cinta tanah air juga tumbuh. Paling tidak, lagu yang dinyanyikan saat upacara bendera,” katanya.

Untuk tenaga pendidik, Dukut mengkondisikan supaya selalu memberikan contoh yang baik kepada peserta didik, seperti memanggil dengan nama sapaan. Ia berharap, tidak ada nama julukan yang diberikan kepada peserta didik, karena dapat mempengaruhi kondisi psikologis. Serta menyesuaikan pemahaman budi pekerti luhur sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

Jika siswa berbuat salah atau melanggar tata tertib sekolah, sambungnya, guru tidak boleh menegur langsung di hadapan siswa yang lain. Tapi mengajak siswa tersebut untuk bertemu di ruang lain, dan memberikan pengertian serta pemahaman terhadap kesalahan yang dilakukan. “Hubungan antar siswa juga terjaga, hubungan guru dan siswa juga terjalin dengan baik,” imbuhnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu

Editor Achmad Saichu