Harga Telur Anjlok

Share this :

Tulungagung, Koran Memo – Sebagian peternak ayam petelur di Kabupaten Tulungagung saat ini resah dengan turunnya harga telur di pasaran. Para peternak menduga turunnya harga telur karena adanya permainan dari pengepul. Namun, para peternak memprediksi harga telur pada bulan depan akan mengalami kenaikan.

Candra salah satu peternak ayam petelur di saat memanen telur dari kandangnya kemarin (deny/memo)
Candra salah satu peternak ayam petelur di saat memanen telur dari kandangnya kemarin (deny/memo)

Candra, salah seorang peternak di Desa Bangoan Kecamatan Kedungwaru mengatakan, turunnya harga telur terjadi sejak dua minggu kemarin. Hal itu diduga adanya permainan dari para pengepul besar. “Ya mungkin ada permainan dari pengepul besar,” ungkapnya.

Pria yang dikenal ramah ini menuturkan, turunnya harga telur ayam ini tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri melainkan oleh peternak lainnya. Harga telur ayam turun drastis, yang semula sekitar Rp 18.000 per kilogram kini turun hingga Rp 14.000 per kilogramnya. Dengan harga sekarang, dipastikan pihaknya tidak dapat meraih untung akan tetapi hanya kembali modal. “Saat ini kami tiak mendapat untung. Dengan harga sekarang ini hanya biaya modal yang kembali,” tuturnya.

Menurutnya, harga telur akan naik di bulan depan nantinya. Hal itu seperti pada tahun sebelumnya. Di saat petani padi mulai panen, dipastikan harga telur juga ikut naik. Namun, saat ini cara lain yang dilakukan peternak untuk menekan kerugian yakni menjual ke daerah lain. Dengan begitu, telur tetap terjual dalam jumlah besar. “Semoga bulan depan harga telur bisa kembali normal,” harapnya.

Selain dihadapkan dengan turunya harga telur, para peternak juga dihadapakan dengan dampak perubahan cuaca. Perubahan cuaca yang kadang panas dan kadang hujan juga berpengaruh pada ayam petelur yakni mengganggu kesehatan. Tidak jarang ayam tidak mau makan dan tentu saja telur kurang maksimal. “Kadang  panas, hujan, panas lagi. ini yang kurang baik dan tidak sedikit ayam yang mati,” ungkap pria berumur 34 tahun.

Dia mengatakan, peternak biasa memberikan obat seperti vitamin pada ayam. Obat tradisional seperti kunyit sebenarnya bisa juga digunakan. Namun, harga yang dinilai mahal, membuat peternak memilih obat dari toko. “Untuk mengantisipasi banyaknya ayam yang mati, pemberian vitamin terus dilakukan,” pungkasnya. (den/Jb)