Harga Bawang Naik Turun, Pedagang di Madiun Tak Berani Nyetok

Share this :

Madiun, koranmemo.com – Harga bawang merah dan bawang putih akhir-akhir ini cenderung naik turun. Kondisi ini membuat sejumlah pedagang pasar tradisional di Kabupaten Madiun merasa cemas.

Salah satu pedagang di Pasar Sambirejo, Kuswadi mengungkapkan beberapa hari ini, kondisi harga bawang yang tidak menentu. Sehingga para pedagang tidak mau ambil resiko dengan mengambil stok banyak. “Kita takut jika sewaktu-waktu harga anjlok,” ungkapnya, Kamis (18/6).

Terpisah, Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperindagkop&UM) Pemkab Madiun toni Eko Prasetyo membenarkan bahwa dua komoditi tersebut mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir.

“Fluktuasi harga bawang merah dan bawang putih terjadi karena suplay yang melambat. Sehingga stok bawang merah dipasar juga menipis,” ujarnya.

Dikatakan, tidak stabilnya harga juga disebabkan karena bawang merah saat ini belum musim panen. Selama ini, pihak perdagangan mengambil stok bawang putih dari distributor Surabaya impor dari India. “Kalau bawang merah dari lokal seperti daerah Nganjuk,” ujarnya.

Tercatat hingga hari ini, Kamis (18/6) stok bawang merah tinggal 1630 kg. Sedangkan bawang putih stok cenderung banyak sekitar 3076 kg.
“Gudang di kebonsari masih cukup melimpah stok bawang putih tapi harga masih naik turun, karena takut ada penurunan jadi tidak berani nyetok banyak, tapi untuk bawang putih aman dengan harga Rp.15.000,” jelasnya.

Dan untuk harga bawang merah, Kamis (18/6) mencapai Rp. 41.250 per kilogram. Padahal harga eceran tertinggi (HET) hanya Rp. 32 ribu per kilogram dan harga normal dipasar standar Rp. 25 ribu – Rp. 30 ribu per kilogram.

“Kita terus melakukan pemantauan dan kebijakan provinsi nantinya akan ada suplay bawang merah melalui Bakorwil Madiun. Karena bawang tidak bisa dipasok oleh bulog,” tandasnya.

Sementara itu, bahan pokok lain yang stoknya menipis adalah daging sapi. Ketersedian hingga saat ini hanya 384 kilohgram. Dan harga masih dalam kondisi normal yaitu Rp.115.000 per kilogram.

Kondisi itu terjadi, jelasnya, lantaran beberapa peternak masih aksi tahan menjelang idul adha tidak menjual hewan ternaknya.
“Meskipun stok daging sapi sedikit masih mencukupi, karena daging sapi itu kebutuhan pokok yang tidak sangat pokok,” pungkasnya.

Reporter Juremi
Editor Achmad Saichu