Hama Ulat Krapyak Serang Ratusan Hektare Lahan Jagung di Nganjuk

Share this :

Nganjuk, koranmemo.com – Hama ulat krapyak menyerang ratusan hektare lahan jagung di Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk. Para petani memperkirakan akan mengalami kerugiaan hingga menyentuh kisaran empat puluh persen pada musim panen mendatang.

Salah satunya seperti yang menimpa lahan jagung milik Agus, petani di Desa Godean. Ia mengatakan, fenomena hama ulat krapyak yang merusak tanaman jagung terjadi hampir di seluruh wilayah Kecamatan Pace.

“Harus sering menyemprot tanaman jagung dengan obat hama agar ulat krapak hilang. Satu petak lahan biasanya menghabisan sekitar delapan hingga sembilan tangki obat hama. Sekali penyemprotan bisa menghabiskan anggaran ratusan ribu rupiah,” katanya kepada Koranmemo.com.

Kondisi serupa dialami Ridwan, petani di Desa Jampes, yang mengaku belasan hektare lahan jagung miliknya diserang hama ulat krapyak. Dia baru menyadari keberadaan ulat di lahannya ketika pagi hari sedang memantau pertumbuhan tanaman jagung.

“Ketika sedang memantau pertumbuhan tanaman jagung di pagi hari, saya lihat ada yang janggal. Kebanyakan daun jagung kelihatan berlubang, bahkan ada yang satu tanaman hampir habis,” tuturnya.

Sejak itu Ridwan berusaha melakukan pembasmian hama secara besar-besaran. Mulai penyemprotan menggunakan obat hama, sampai memungut satu persatu ulat tersebut. Menurutnya, penyemprotan menggunakan obat hama dirasa kurang efektif. Selain biaya yang dibutuhkan terbilang tinggi, penyemprotan juga dapat merusak kualitas tanaman jagung miliknya.

“Biaya semprot obat hama bisa menyentuh angka jutaan rupiah kalau dihitung dari awal hingga panen. Satu minggu penyemprotan saja habis sekitar Rp 600 ribu. Tinggal dihitung saja sebulan bisa habis berapa,” kata Ridwan.

Selain itu, untuk melakukan pemungutan ulat, Ridwan juga menggunakan jasa tenaga orang lain. Meskipun biaya yang dikeluarkan tidak sebesar ketika melakukan upaya semprot hama, tetapi ia tetap saja merugi.

“Satu petak lahan mempekerjakan empat sampai lima orang. Satu orang diberi upah hingga puluhan ribu. Dengan bertambahnya biaya perawatan, otomatis akan mengurangi keuntungan hasil panen,” keluhnya.

Para petani berharap adanya bantuan dari pemerintah dalam upaya pemberantasan hama. Terutama dalam pemenuhan obat-obat hama, sehingga beban petani bisa sedikit berkurang.

Dikonfirmasi secara terpisah, Soderi, petani Desa Tanjung Kecamatan Kertosono mengaku, harga jagung pada musim panen kali ini sangat murah dari para tengkulak. “Biasanya bisa sampai Rp 4 juta kalau tebasan, sekarang jagung berkualitas bagus hanya Rp 3 juta sudah untung-untungan,” keluhnya.

Reporter Andik Sukaca
Editor Achmad Saichu