Hadirkan Saksi Napi dan BNN, Dua Cewek Kurir Sabu Disidang

Madiun, koranmemo.com – Dua kurir 4 kg narkoba jenis sabu Siti Artiasari dan Natasya Harsono yang diringkus Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Timur pada awal Mei lalu menjalani sidang di ruang sidang Cakra, Pengadilan Negeri Kabupaten Madiun dengan agenda pembuktian atau mendengarkan keterangan saksi Jaksa Penuntut Umum (JPU), Selasa (3/9).

Jaksa Penuntut Umum, Tri Satrio W. M mengatakan dalam kesempatan ini mendatangkan empat saksi yaitu Etmon Gani yang merupakan narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas l Madiun, Sri wahyuni dari Komplek Gude, Desa Teguhan, Kecamatan Jiwan dan dua saksi dari BNNP yakni Wisnu Aryanggi dan Bahrul Gufron.

“Saksi yang dihadirkan berdasarkan dalam berkas, dua saksi BNNP, saksi yang disebut-sebut namanya oleh terdakwa salah satu napi di lapas madiun dan satu lagi adalah satu saksi dari alamat tujuan pengiriman,” katanya usai melaksanakan sidang.

Disampaikan alasan terkait pemanggilan Etmon sebagai saksi ke perkara ini lantaran dalam keterangan terdakwa di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) menerima barang atau mengendalikan narkoba atas perintah Etmon dari lapas Madiun. Sementara Etmon mengaku tidak mengenali terdakwa baik Siti maupun Natasya.
“Dari awal etmon mengaku tidak mengenalnya, untuk sabu dalam hal ini dikuasai oleh Natasya dan Siti,” ujarnya.

Atas perbuatan kedua terkdakwa didakwakan berdasarkan pasal 114 ayat 2 dan 112 ayat dua yang memiliki ancaman hukuman mati karena sabu yang diedarkan lebih dari lima gram. Selaku jaksa penuntut umum dalam hal ini, juga selaku penegak hukum pihaknya berharap masalah ini dituntaskan semua dari akar-akarnya tidak hanya separo-separo.

Sementara Sigit Haryo Wibowo selaku tim kuasa hukum dari Siti dan Natasya mengaku adanya kejanggalan terutama dalam keterangan saksi Etmon. Ditemui adanya benang merah yang tidak menyambung dengan terdakwa. Terkait kemudahan Etmon untuk berkomunikasi dengan pihak luar saat berada di dalam lapas itu disangkal. Saat menyampaikan kesaksian dalam sidang Etmon memang mengaku tidak pernah sekali pun mengenal kedua terdakwa dan menyangkal kemudahan berkomunikasi dengan pihak luar.

Terkait barang bukti berupa HP yang disita, dikatakan hanya untuk menghubungi keluarga di rumah yang disimpannya secara diam-diam saat berada di lapas. “Padahal semua itu sudah ada tindakan yang dilakukan terdakwa atas dasar perintah dari Etmon,” sanggah Sigit.

Untuk membuktikan kebenaran informasi tersebut, sebagai kuasa hukum dari terdakwa pihaknya akan segera membuktikan sejauh apa kebenaran yang disampaikan saksi Etmon tersebut. Ditambahkan, berdasarkan keterangan Etmon memberikan perintah kepada kedua terdakwa disuruh mengambil barang di Pekanbaru dan dikirimkan ke Surabaya.

Komunikasi melalui telepon bahkan beberapa kali berkomunikasi menggunakan aplikasi whatsapp yang saat itu Etmon sedang berada di dalam lapas. Pada awalnya terdakwa dengan saksi mengenal melalui temannya belum lama. “Untuk membuktikannya kita bakal menghadirkan saksi dari dua petugas lapas yang menyaksikan bahwa Etmon menyuruh kedua terdakwa,” tegasnya.

Reporter Juremi

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date