Go-Jek Versus Ojek di Madiun Memanas

Madiun, koranmemo.comPersaingan antara layanan jasa transportasi sepeda motor berbasis aplikasi Gojek dan ojek konvensional  mulai memanas. Jumat (11/8) siang,  driver ojek konvesional yang mangkal di Stasiun Besar Madiun melakukan sweeping terhadap Gojek. Bahkan, sempat terjadi adu mulut antar kedua belah pihak.

Salah seorang pengendara ojek konvensional, Budi Doso Santoso mengatakan, sweeping dilakukan karena driver Gojek dinilai melanggar kesepakatan bersama dengan pengendara ojek konvensional.

Awalnya ada dua driver Gojek yang menurunkan penumpang di depan Stasiun. Satu driver menggunakan atribut Gojek, sedangkan satu lagi tanpa atribut.

Budi Doso dan pengemudi ojek konvensional lainnya telah mengingatkan driver Gojek agar mengindahkan aturan, tetapi justru melarikan diri dan dikejar hingga terjadi adu mulut.

“Saran dari Polres kalau ada Gojek yang nggak seragam, jangan narik di sekitar sini. Lagi pula kan sudah disepakati radius jaraknya. Lha ini diingatkan malah kabur,”katanya.

Sesuai kesepakatan bersama, lanjut Budi, driver Gojek dapat menaikkan dan menurunkan penumpang di radius 400-500 meter dari Stasiun maupun Terminal Purboyo Kota Madiun. Namun, sampai saat ini masih ada sejumlah driver Gojek yang melanggar kesepakatan itu.

“Kami sampai menulis nomor motornya di tembok-tembok. Mereka (driver Gojek,red) nyuri-nyuri. Kan kami disini sudah lama, mbok ya jangan ganggu,”ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Madiun, Ansar Rosidi mengaku bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan rekomendasi perizinan terkait operasional Gojek di Kota Madiun.

Begitu pula dengan Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Koperasi dan Usaha Mikro (DPMPTSP), sempat mengeluarkan izin aplikasi (bukan operasional).

Namun belum lama ini ditarik kembali oleh Pemkot Madiun. Bahkan, lanjut Ansor, Undang-Undang juga tidak ada yang mengatur terkait Gojek untuk digunakan sebagai angkutan umum.

“Ada satu regulasi Undang-Undang 22/201, bahwa Gojek itu tidak akan pernah dijadikan secara legal sebagai angkutan umum. Dari Dishub pun juga tidak pernah mengeluarkan rekomendasi perizinan terkait dengan Gojek,”katanya.

Sampai saat ini, Dishub sudah beberapa kali melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait untuk membahas keberadaan Gojek. Hanya saja, rapat tersebut sampai saat ini belum menemukan solusi. Rencananya rapat koordinasi kembali akan dilakukan pada Selasa (15/8) guna memantapkan sikap Pemkot Madiun terhadap keberadaan Gojek di Kota Madiun.

Terlebih lagi, sesuai dengan surat dari Dirjen Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan Nomor AJ.2016/1/1/DRJD/2017 tanggal 5 April 2017 disebutkan, bila daerah akan mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang penyelenggaraan angkutan sepeda motor sebagai alternatif. Maka harus ada kesepakatan antara penyedia angkutan berbasis aplikasi teknologi informasi dengan angkutan konvensional dan sejenisnya. Namun sampai saat ini belum ada kesepakatan antara angkutan berbasis aplikasi online dengan konvensional.

Reporter: M. Adi Saputra
Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date

2 tanggapan untuk “Go-Jek Versus Ojek di Madiun Memanas

  • 06:49 ,12 Agustus 2017 pada 06:49
    Permalink

    Lha nek bengi2 aq butuh ng stasiun po terminal ra enek sg ngeterne, lha aq pora butuh gojek sg gari klik, tur murah regone

  • 08:10 ,12 Agustus 2017 pada 08:10
    Permalink

    Go-Jek murah dan nyaman. Tarif sdh sangat jelas tertera dan bisa dgn transaksi non tunai. Konsumen bisa memilih layanan apapun tdk hanya sebatas antar jemput penumpang. Teknologi sdh semakin maju. Akankah kita mundur ataukah mengikuti perkembangan peradaban?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.