Gara-gara di-PHK Ingin Dirikan Pabrik Sendiri

Share this :

Pengusaha Sikat Kamar Mandi Desa Besuk

Kediri, Koran Memo – Menjadi korban PHK sebuah pabrik sikat kamar mandi membuat Gaguk Prayogo, pria asal Desa Besuk Kecamatan Gurah, bercita-cita ingin memiliki pabrik sikat sendiri.  Pengalaman yang dia dapat selama menjadi buruh pembuat sikat dia manfaatkan untuk memulai usahanya sendiri.  Hasilnya, setelah 5 tahun berjuang menjual sikat dari rumah ke rumah, kini dia menjadi salah satu produsen sikat kamar mandi paling laris di Jawa Timur.

Gaguk Prayogo
Gaguk Prayogo

Pabrik sikat kamar mandi ‘Diamond’ milik Gaguk berdiri sekitar awal 2010.  Tahun tersebut, adalah tahun kedua setelah dia di-PHK dari pabrik sikat tempatnya bekerja selama 7 tahun.  Dia dipecat dengan alasan pabrik tersebut ingin mengubah sistem kerja mereka yang semula padat karya menjadi padat modal.  Meskipun dia merasa itu tidak adil, dia tidak memiliki pilihan lain selain menerima.

Karena tidak memiliki keahlian selain membuat sikat, dia pun bertekad untuk membuat pabrik sikatnya sendiri.  Selama dua tahun, dia bekerja di sebuah warung untuk mencari modal.  Entah rezeki atau keajaiban dari mana, selama dua tahun itu dia bisa menabung dan menghidupi istri serta anaknya.  “Kalau disuruh mengatakan bagaimana dapat modalnya, ya dari menabung.  Tapi kalau ditanya bagaimana bisa menabung, saya sendiri tidak tahu,” kata Gaguk.

Tahun 2010, bermodal nekad dan doa dari keluarganya, dia mengambil semua tabungan untuk membuka usaha.  Awalnya, dia hanya sanggup membuat 20 sikat, yang dia coba jual di warung tempatnya bekerja dan dari rumah ke rumah.  Tidak disangka-sangka, dalam waktu satu bulan, 10 sikat yang dia letakkan di warung ludes terjual, sementara yang dia jual dari rumah ke rumah, masih sisa 5 sikat.

Di bulan kedua dia membuka usaha, pola ini dia terapkan lagi.  Sebagian diletakkan di warung, sebagian dia bawa berkeliling.  Tapi kali ini dia tidak asal memilih sasaran.  Dia mencari orang-orang yang membeli dari pabrik sikat tempatnya bekerja dulu.  Dia menawarkan kepada mereka sikat yang kualitasnya sama dengan harga yang lebih murah.  Lewat cara itu, di bulan kedua, dagangannya habis.

Di bulan-bulan berikutnya, sedikit demi sedikit dia menambah barang produksinya.  Dari 20 menjadi 30, dan dari 30 menjadi 40.  Penjualannya pun juga tidak hanya di satu warung, namun dia sebar hingga ke Pasar Gurah.  Hanya dalam kurun waktu dua tahun, sikat buatannya ini mendapat banyak pesanan dari seluruh penjuru Kediri.

Gaguk mengungkapkan, untuk hal ini dia harus berterimakasih kepada salah seorang pembeli sikatnya, yang telah memborong 50 sikat buatannya untuk dibawa ke Surabaya.  Karena sejak saat itu, pembeli sikatnya semakin banyak dan orderan juga terus bertambah.  “Saya sampai terkejut.  Kalau kata mereka, sikat kamar mandi buatan saya itu halus, rapat, tapi bersih,” kata Gaguk.

Tahun 2016 ini, sikat kamar mandi buatannya ini telah menembus seluruh penjuru Jawa Timur.  Untuk memperbaiki kualitas produknya, dia tidak ragu untuk menaikkan harga sikatnya sedikit di atas harga pasar. “Ijuk yang digunakan kualitas super agar awet dan kuat.  Pemasangan ijuknya juga lebih dirapatkan lagi sehingga untuk menyikat bisa lebih bersih.  Bahan kayu yang digunakan dari kayu mahoni yang sudah dihaluskan agar tidak mudah patah dan nyaman digunakan,” ujar Gaguk.

Selain berhasil memperjuangkan nasibnya sendiri, ternyata pabrik sikat ini berhasil membantu perekonomian warga sekitarnya.  Saat ini, dia sukses menyerap 25 karyawan yang semuanya berasal dari Desa Besuk.  Dia memprioritaskan wanita sebagai karyawannya, karena dia melihat banyak wanita di desanya yang menganggur sementara suaminya bekerja sawah.  “Siapa sangka mantan orang yang terkena PHK, hanya dalam waktu enam tahun bisa mempekerjakan orang,” ujarnya sambil tertawa. (della cahaya)

 

Follow Untuk Berita Up to Date