Gandeng BI, Pemkab Nganjuk Perhatikan Petani Bawang Merah

Nganjuk, koranmemo.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri bekerjsama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, membuat program demplot dengan memanfaatkan bahan organanik pada pertanian bawang merah. Langkah tersebut guna menghadapi tantangan petani pada penurunan tingkat kesuburan tanah, sehingga diharapkan produktivitas pertanian meningkat yang berdampak pada penekanan angka inflasi.

Kepala Kantor Perwakilan BI Kediri, Musni Hardi Kusuma Atmaja mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi petani Indonesia di masa mendatang adalah penurunan kesuburan tanah berkelanjutan dan peningkatan serangan organisme pengganggu tanaman. Dampaknya pada peningkatan biaya produksi dan daya saing produk pertanian Indonesia akan semakin merendah, sehingga berujung pada kesejahtraan petani yang merendah pula.

“Melihat kondisi tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk membuat program demplot dengan memanfaatkan bahan organik pada pertanian bawang merah,” ungkapnya.

Ditambahkan, kegiatan ini merupakan upaya untuk menjaga stabilitas harga, terutama harga bawang merah yang mengakibatkan inflasi. Namun permasalahan pada pertanian bawang merah ini adalah terkait dengan kesuburan tanah. Maka Perwakilan Bank Indonesia Kediri memfasilitasi dan membina petani agar menggunakan pertanian yang ramah lingkungan yang berdampak pada peningkatan kesuburan lahan.

“Sehingga produktivitas bawang merah meningkat, biaya produksi menurun, daya saing yang tinggi dan tentunya harga bawang merah lebih baik,” paparnya.

Dalam temu lapang panen perdana bawang merah terapan ramah lingkungan yang dilaksanakan di Desa Mojorembun Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk, Senin (19/8) sekaligus memberikan gambaran dan contoh akan manfaat penggunaan bahan organik bagi penanaman bawang merah.

Kegiatan tersebut hasil kerjasama antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Gapoktan Karya Abadi, Gapoktan Luru Luhur, Pusat Kajian Hortikultura IPB, dan Uniska.
Terkait dengan pelaksanaan penanaman, pengamatan pertumbuhan tanaman hasil panen beserta analisisnya. Dengan demikian dapat diketahui perlakuan mana yang mampu memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan hasil panen bawang merah yang menguntungkan.
Selain itu pada tahun 2019 ini bawang merah menjadi salah satu dari lima penyumbang inflasi baik Kota Kediri dan Kota Madiun, dari Maret 2019 dengan bobot inflasi pada kisaran 0,21 persen sampai 0,25 persen.
Sementara itu, menurut Bupati Nganjuk H. Novi Rahman Hidayat, banyak sisi positif dengan kembali pada ramah lingkungan dan menyehatkan. Pihaknya juga melihat produksi yang meningkat pada panen bawang merah. “Dari segi kualitas dan kuantitas yang menggunakan pupuk organik, ini sangat memuaskan,” tandasnya.

Untuk diketahui, dari panen bersama tersebut dapat disaksikan dari dahulunya hanya 15 sampai 17 ton, kini dapat mencapai 29 sampai 30 ton perhektar, dengan uji coba sebanyak 400 hektare. Semenatara teknologi yang telah dikembangkan tersebut bersama dengan dinas terkait dan sejumlah lembaga peneliti  yang terbukti mempu meningkatkan produktivitas pertanian bawang merah dapat diadopsi oleh petani bawang merah lain.(adv/humas pemkab)

Reporter Andik Sukaca
Editor Achmad Saichu

 

Follow Untuk Berita Up to Date