Gakkum Jabalnusa Datangi Sungai Diduga Tercemar Limbah Klorin dan Belerang

Jombang, koranmemo.com – Pencemaran air oleh limbah klorin dan belerang di Sungai Avur di Dusun Gongseng Desa Pojokrejo Kecamatan Kesamben, mulai direspon Balai Gakkum Jabalnusa (Jawa Bali dan Nusa Tenggara) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Dalam sidak di lokasi, Gakkum telah menemukan pipa yang tertanam di bawah tanah menuju ke arah sungai.

Ini seperti diungkapkan oleh Kepala Bidang Wasdal Gakkum DLH Jombang Yuli Inayati saat dikonfirmasi oleh awak media di Kantor DLH Jombang di Jalan Prof. Dr. Nurcholish Madjid No.80 Sumbernongko Tunggorono Jombang, Jumat (29/11) siang.”Yang pasti Gakkum sudah melaksanakan verifikasi pengaduan masyarakat kelapangan selama 3 hari ini, sejak hari Rabu kemarin. Hasilnya, mereka (Gakkum) baru akan dituangkan ke BAP, jadi kita juga tidak mengerti hasil dari verifikasi Gakkumdu kemarin, karena mereka yang melaksanakan pengawasan,” ungkap Ina sapaan akrabnya.

Pada limbah di air saluran buang atau sungai Avur Budug Kesambi ini, menurut Ina, terlihat berwarna hitam kecoklatan, yang memiliki lebar kurang lebih 4 meter dan kemudian terlihat berbuih dan mengeluarkan aroma menyengat. Bahkan makhluk hidup seperti ikan di air itu kebanyakan sudah dalam kondisi mati.

Meskipun pihak DLH tidak menyebutkan satu persatu temuan bersama Gakkumdu, tetapi telah menyebut bahwa ada temuan 2 pipa berukuran 4 dim yang tertanam di tanah, yang sengaja dirancang membuang limbah menuju aliran air sungai tersebut.

“Pengawas dari balai gakumdu, berhasil menemukan, salah satunya ada saluran pipa sudah ditemukan dan sengaja dibuang oleh pengelola salah satu pabrik. Jadi memang ada saluran pembuangan siluman yang berada di depan perusahaan yang langsung mengarah atau dialihkan menuju sungai Buduk Kesambi di depannya. Padahal, sesuai perizinannya itu, saluran pembuangannya seharusnya berada di belakang yang ikut di (avur) Watudakon,” jelasnya.

Lebih lanjut, saat disingung apakah pipa tersebut dipotong atau dibiarkan saja. Menurut Ina, setelah ditemukan pipa itu, langsung dilakukan pemotongan, untuk menghindari supaya tidak digunakan lagi, serta sudah disemen, sehingga perusahaan sudah tidak bisa melakukan pembuangan melalui pipa itu kembali.

“Tindakan itu sudah menjadi kewenangan penuh dari gakumdu. Mereka kan sudah turun kelapangan, kemudian gakumdu sendiri yang melihat fakta dan temuannya. Untuk hal ini memang sudah menjadi tanggung jawab mereka untuk kemudian memberikan keputusan akhir. Kalau saat ini masih BAP, artinya kita tidak bisa mendahului mereka,” tandasnya.

Ia juga menyebutkan, dalam limbah tersebut ada 2 perusahaan dan keduanya sudah dilakukan pemeriksaan oleh Gakumdu. Kemudian, kembali disinggung apa sanksi yang dikenakan oleh pabrik. Dirinya mengatakan ada 3 yakni, sanksi administratif, sanksi pidana dan sanksi perdata.

“Cuman nanti yang keluar seperti apa kita juga kurang tahu, kalau memang pabrik itu sudah terbukti bersalah menurut aturan. Otomatis keputusan itu, kita menunggu gakumdu, kecuali kita yang punya kewenangan tersebut, maka kami akan memutuskan seperti apa sanksinya. Meskipun sebelumnya, kita juga sudah melakukan verifikasi, tapi saat ini sudah kewenangan gakum,” paparnya.

Ina menembahkan, pipa siluman untuk pembuangan limbah ini seperti itu sudah ditanam sejak tahun 2014 lalu. “Informasinya sudah membuang limbah dengan pipanya sudah 5 tahun. Kemudian, untuk pabrik satunya sudah 2 tahun. Dari pipa langsung sengaja dimasukkan di sungai avur,” pungkasnya.

Reporter : Taufiqur Rachman

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date