Faktor Ekonomi Dominasi Angka Perceraian di Trenggalek

Trenggalek, koranmemo.com – Angka perceraian di Kabupaten Trenggalek masih tinggi. Kondisi ini terlihat berdasarkan banyaknya berkas perkara yang masuk di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Trenggalek. Setidaknya terhitung mulai Januari hingga November 2018, sebanyak 2.618 berkas perkara telah ditangani Pengadilan Agama Kabupaten Trenggalek.

Achmad Romli, Panitera Muda (Panmud) Pengadilan Agama Kabupaten Trenggalek mengatakan, ribuan berkas perkara perceraian yang masuk itu tak sepenuhnya mendapat putusan. Sementara berkas perkara yang sudah mendapatkan putusan yakni sebanyak 2.566 berkas perkara. “Berkas yang masuk sebanyak 2.618 dan yang sudah diputus sebanyak 2.566,” ujarnya saat dikonfirmasi sejumlah awak media.Romli menyebut, berdasarkan berkas perkara yang masuk mayoritas didominasi oleh cerai gugat, atau gugatan cerai yang diajukan oleh pihak perempuan. Dalam kurun waktu 11 bulan, pihaknya telah melakukan putusan sebanyak 1.068 berkas perkara dari 1.277 berkas perkara yang masuk.

 “Sementara untuk cerai talak atau cerai yang diajukan pihak laki-laki, dalam periode yang sama yakni sebanyak 582 berkas perkara yang masuk dan telah diputus sebanyak 452 berkas perkara,” jelasnya.

Diakui tingginya angka perceraian di Kabupaten Trenggalek banyak didominasi oleh faktor ekonomi. Selain masalah ekonomi, beberapa problema lainnya seperti faktor lain-lain juga cukup mendominasi. “Misalnya poligami sebanyak dua perkara, pembatalan perkawinan sebanyak 1 perkara, penguasaan anak dan lain sebagainya. Namun di tahun ini faktor ekonomi yang paling mendominasi,” kata Romli.

Dari sebagian perkara yang diputus itu, tiga persen diantaranya berasal dari kalangan tenaga kerja wanita (TKW). Romli menyebut, TKW menyumbang angka sekitar tiga persen dari total perkara perceraian yang telah diputus PA Kabupaten Trenggalek. Pemutusan itu dilakukan setelah TKW itu mengajukan gugatan baik melalui kuasa hukum maupun datang secara langsung.

 “Untuk TKW ada juga, mungkin sekitar tiga persen di Kabupaten Trenggalek. Banyak permasalahan, mulai bertengkar terus menerus, pihak ketiga hingga faktor ekonomi yang paling mendominasi,” jelasnya.

Romli mengaku telah mengupayakan yang terbaik kepada pasangan suami isteri (pasutri) yang mengajukan perceraian tersebut. Namun upaya yang dilakukan belum menampakan hasil yang positif, lantaran dari para penggugat maupun tergugat tetap bersikukuh untuk berpisah.

 “Kalau sudah seperti ini kami tidak dapat berbuat banyak. Karena butuh kesepakatan kedua belah pihak yang bersangkutan. Sebelum memutuskan untuk berpisah, kami selalu lakukan mediasi. Ada yang berhasil, begitu juga sebaliknya,” ujarnya.

Selain itu, dispensasi nikah di Kabupaten Trenggalek juga perlu mendapat perhatian khusus. Sebab mayoritas yang mengajukan dispensasi nikah itu dilatarbelakangi karena married by accident (MBA) atau hamil di luar nikah.

“Banyak yang mengajukan dispensasi nikah. Ketika mengajukan dispensasi nikah sudah dalam keadaan hamil. Untuk tahun 2018 lebih banyak dari tahun sebelumnya, hampir sebanyak 58 perkara,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date