Dugaan Pemalsuan ISBN

Tak Muncul Karena Situs Belum Dibuat

Mojokerto, koranmemo.com – Penerbit buku pendamping materi untuk siswa sekolah dasar (SD), CV MIA Surabaya-Indonesia, buka suara soal tudingan pemalsuan kode standar buku internasional (ISBN) yang mereka cantumkan pada buku terbitan mereka. Menurutnya, data ISBN tak muncul di situs Perpustakaan Nasional (Perpusnas) lantaran dikeluarkan tahun 2011 saat situs belum dibuat.

Direktur Utama CV MIA Surabaya-Indonesia, Imam Subekti memaparkan, tahun ajaran 2016 – 2017 ini, pihaknya menerbitkan buku Antara (anak pintar rajin dan aktif) untuk kategori mata pelajaran umum dan Ta’lim khusus mapel agama Islam. Kedua macam buku pendamping materi itu diterbitkan untuk siswa kelas 1-6 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Terdiri dari 7 judul buku mapel umum untuk siswa SD dan MI serta 6 judul buku khusus siswa MI. Sebarannya pun, kata Imam mencapai 11 Kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Sedikitnya 45.000 eksemplar buku Antara dan 15.000 eksemplar buku Ta’lim diedarkan pada awal tahun ajaran 2016-2017 di Kabupaten Mojokerto.

“Pelapor harus punya wawasan yang luas tentang ISBN. Karena ISBN semua judul buku terbitan CV MIA dikeluarkan Perpusnas pada 12 Agustus 2011 silam, itu berlaku selamanya,” kata Imam kepada wartawan, Rabu (14/9).

Oleh sebab itu, lanjut Imam, data ISBN buku yang diterbitkan CV MIA tak muncul dalam mesin pencarian situs Perpusnas. “Dicek tidak muncul karena keterbatasan fasilitas pangkalan data ISBN di Perpusnas. Data yang diunggah hanya yang terdaftar tahun 2014 ke atas, yang terdaftar tahun sebelumnya belum terunggah,” terangnya.

Penjelasan Imam juga diperkuat dengan surat validasi ISBN dari Perpusnas tertanggal 19 Agustus 2016. Dalam surat No 1107/3.1.2/dbp.05/VIII.2016 itu, pihak Perpusnas menegaskan bahwa kode ISBN yang tercantum di setiap buku terbitan CV MIA, asli.

“Surat validasi itu sudah kami tunjukkan ke penyidik (Sat Reskrim Polres Mojokerto). Selain itu, kami juga menunjukkan surat izin CV MIA, termasuk izin dari Perpusnas berupa ISBN tersebut,” pungkas Imam.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pos Bantuan Hukum Advokat Indonesia (Posbakumadin) Biro Mojokerto melaporkan CV MIA Surabaya-Indonesia ke Polres Mojokerto atas dugaan pemalsuan kode ISBN (International Standard Book Number). Pelapor menyebut kode ISBN diduga palsu lantaran tak muncul saat dimasukkan ke mesin pencarian di situs Perpusnas. (ag)

 

Follow Untuk Berita Up to Date