Dua Potongan Kepala Kala Era Kerajaan Singosari Ditemukan Warga Tulungagung

Share this :

Tulungagung, Koranmemo.com – Dua benda purbakala menyerupai kala atau butho kembali ditemukan warga Tulungagung. Benda diduga cagar budaya itu ditemukan berada di pekarangan rumah warga di Desa Sidorejo Kecamatan Kauman. Dua potongan benda menyerupai bentuk kala itu diduga merupakan peninggalan era Kerajaan Singosari.

Dua benda berbentuk kala itu berada di pekarangan rumah Sunarmi dan Suprapdi warga Dusun Krajan. Benda itu bukanlah penemuan baru, pasalnya keberadaan dua benda itu sudah diketahui warga kurun waktu lama. “Sering ditemukan potongan-potongan kecil (diduga benda purbakala). Benda itu, menurut saya menyerupai buto atau kala ya. Ada lagi di pekarangan warga lain (Suprapdi),” kata Sunarmi, Jumat (19/6).Benda itu, lanjut Sunarmi, dulunya ditemukan di seputaran area pohon bambu rumahnya. Ketika pertama ditemukan, beberapa bagian benda itu terlihat keatas permukaan tanah. Menurut rumor yang berkembang, benda itu ditemukan kisaran tahun 1966.

Namun lambat laun diduga benda itu kembali teruruk tanah sebelum akhirnya kembali ditemukan warga. “Bentuknya sudah kayak gini. Tapi menurut kakak saya dulu waktu kecil ada tiga, waktu masih main-main,” imbuhnya.

Sunarmi mengaku, ada beberapa orang yang sengaja datang ke lokasi itu untuk bertapa dengan tujuan tertentu. Pengalaman mistispun, kata Sunarmi, kerap dia dengar di seputaran lokasi benda itu. “Kalau saya nggak pernah. Tapi kalau almarhum suami saya pernah istilahe kayak dijongkrokne (didorong) gitu. Kata tetangga ada yang pernah melihat ada mata berwarna merah,” cerita Sunarmi. Dia menyebut, lokasi itu juga pernah digunakan beberapa orang untuk bertapa.

Sejauh ini dua benda itu masih tetap dibiarkan seperti pertama kali ditemukan. Hanya saja, terdapat beberapa kelompok orang yang mendatangi lokasi untuk melihat dua benda tersebut. Berbagai ceritapun ia dengar dari beberapa orang yang pernah mengunjungi lokasi tersebut. “Ada orang mau lihat tiba-tiba ngasih kembang, kata (orang itu) nggak mau dipindah. Kalau saya pasrah saja (kalau mau dipindah), percaya gak percaya orang jawa,” pungkasnya.

Kepala Museum Daerah Tulungagung, Hariyadi mengatakan, merujuk keterangan ahli sejarah Dwi Cahyono, diduga benda itu merupakan bagian Candi Kalangbret sebagaimana tertulis dalam Prasasti Mula Malurung era Kerajaan Singosari. Ahli sejarah dari universitas di Malang itu, kata Hariyadi menduga, ada bangunan percandian yang digunakan untuk pendarmaan kerabat kerajaan di sekitar Sidorejo. “Penemuan serpihan kepala kala ini semakin menguatkan dugaan ada bangunan suci tak jauh dari Desa Sidorejo. Bisa jadi itu merupakan bagian dari Candi Kalangbrat, seperti tertulis dalam prasasti Mula Malurung,” kata dia.

Dalam prasasti itu, lanjut dia, tertulis sebuah candi besar bernama Kalangbret. Kalangbrat memiliki nama persis dengan salah satu daerah Kalangbret di Tulungagung. Kendati demikian, kepastian hubungan antara sejarah Candi Kalangbrat dengan temuan kepala Kala di Desa Sidorejo masih menunggu kajian dari tim Arkeolog BPCB Trowulan. “Total sudah ada empat potongan kepala Kala yang ditemukan di sekitar Desa Sidorejo. Dua lainnya sudah disimpan di Museum Daerah Tulungagung. Dua lagi, diduga belum ditemukan,” imbuhnya.

Hariyadi menjelaskan, ahli sejarah itu menduga, keberadaan Candi Kalangbret itu berada tak jauh dari lokasi penemuan. Dugaan ini terlihat dari banyaknya kala yang biasanya berada di seputaran bangunan sebuah candi. “Ahli sejarah menduga mungkin saja Candi Kalangbret yang masih misteri ini tidak jauh dari Sidorejo. Terbukti ada beberapa kala karena sebuah bangunan besar itu disertai dengan banyak gapura. Dan didalam gapura itu diletakkan kala. Artinya kala itu bagian dari sebuah bagian bangunan suci yang diletakkan di relung candi gapura masuk. Diduga beberapa ahli jaman Singosari,” pungkasnya.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung telah melaporkan temuan kepala Kala tersebut kepada arkeolog BPCB Trowulan. Namun pihaknya belum dapat memastikan apakah akan dilakukan eskavasi sebagai upaya penyelamatan benda diduga cagar budaya. Selain itu kesepakatan antara pemerintah dengan pemilik lahan juga menjadi pertimbangan. “Ekskavasi tergantung nanti hasil dari BPBC dan pihak yang punya tanah,” kata Kasi Pelestarian Cagar Budaya Museum dan Purbakala, Dinas Kebudayaan dari Pariwisata Tulunagunng, Winarto.

Sejauh ini pihaknya telah melakukan beberapa langkah awal identifikasi. Namun saat ini perlindungan keamanan benda itu sebelum ada pengkajian, lanjut Winarto, diserahkan kepada pemilik tanah. Namun pihaknya bakal mencatatkan dalam buku register perihal penemuan buku benda tersebut. “Perlindungan (keamanan benda sementara) yang punya tanah, selanjutya pengajian. Kita akan catatkan dalam register, termasuk nanti semacam kompensasi penemuan ini akan dibahas lebih lanjut,” kata dia.

Merujuk hasil pengukuran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, fragmen kala yang ditemukan di lokasi rumah Sunarti berdimensi tinggi 110 cm, lebar 134 cm dengan ketebalan 30 cm. Sementara di lokasi milik Suprapdi, fragmen kala yang ditemukan lebih kecil. Dimensinya memiliki tinggi 85 cm, lebar 110 cm dan tebal 26 cm. Namun belum diketahui secara pasti kala tersebut ditemukan tahun berapa dan di era kerajaannya.

Reporter : Cahyo Syamhuda

Editor : Achmad Saichu