Dua Penderita Tumor Mata Meninggal

Blitar,Koran Memo – Dua penderita tumor mata asal Kabupaten Blitar meninggal dunia di rumahnya masing – masing,Sabtu (23/5) sore. Mereka adalah Sumono (52), warga Desa Ngaringan, Kecamatan Gandusari, dan Sabikul Khoirot, berusia 4 tahun 5 bulan, asal Desa Pandan Arum Kecamatan Sutojayan. Kematian mereka terkait penyakit yang dideritanya.

Seperti Sumono, ia meninggal dunia di saat menunggu jadwal operasi di Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Kota Malang.Namun, karena tak kunjung dioperasi sehingga kondisi kesehatannya terus menurun.

“Dia sudah dua kali datang ke RS di Malang namun selalu balik. Katanya, jadwal operasinya belum diagendakan. Akhirnya, ia menunggu di rumah. Tiga hari ini tak mau makan dan kesehatannya drop,” kata Agus Wijayanto, Kades Ngaringan, Minggu (24/5).

Sebelumnya, pria yang tinggal sendirian di rumahnya yang sangat sederhana itu juga tak pernah mendapatkan penanganan di RS karena kemiskinannya.Namun setelah diberitakan di koran, dr Kuspardani, Kadinkes Kabupaten Blitar bersimpati dan membawanya ke RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi, Sabtu (11/4).

“Selama di RS Malang, ia hanya diperiksa saja. Soal operasinya, ia diberi pilihan, apakah menunggu di RS atau menunggu ditelepon dari RS. Namun karena ia tak punya keluarga, yang menunggunya, ia memilih pulang, sambil menunggu ditelepon dari RS. Namun, hingga sebulan ini, tak ada telepon dari RS,” paparnya.

Selama menunggu di rumah, menurut Agus, penyakit tumornya kembali kambuh.Tiap hari, ia tak tahan dengan rasa nyeri yang luar biasa hingga membuatnya tak mau makan dan tubuhnya panas.

Berbeda dengan Sabikul.Anak pasangan Romdoni (40) dan Kanifah (35) itu memang tak pernah merasakan RS. Sebab, orangtuanya sengaja tak membawanya ke RS.Meski benjolan di mata kanannya sudah menjulur sepanjang 6,5 cm hingga menutupi mulutnya, ia hanya dirawat di rumah saja.

Alasan orangtuanya, karena trauma. Sebab, anak perempuannya, yang tak lain kakak Sabikul, yang juga menderita penyakit serupa, juga meninggal dunia setelah dioperasi.

“Kesehatannya drop sudah 15 hari namun yang terparah tiga hari. Selain tubuhnya panas, dan lemas, juga nggak mau makan,” tutur Romdoni.

Meski kondisi kesehatan anaknya kian turun, namun ibunya tak membolehkan dibawa ke RS. Sebelum anaknya meninggal dunia, menurutnya, ia masih sempat minta dibelikan kaset VCD Upin Ipin yang terbaru. “Namun belum sempat saya belikan,” paparnya.

Setelah kedua anaknya meninggal dunia, dengan menderita penyakit tumor mata, kini Romdoni masih punya satu anak lagi, yakni Rahmatul Ullah, kelas 1 SMP.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr Yuni Sri Wulandari mengatakan, pihaknya sudah mendapat laporan. Menurutnya, sebenarnya dinkes sudah merujuk Sumono ke RSSA Malang.

“Kami ya berharap, ia segera ditangani. Namun, kalau teknis di lapangan, bahwa si penderita belum juga ditangani, kami nggak bisa intervensi,” tuturnya.

Soal Sabikul, menurutnya, dinkes sudah berkali-kali membujuk orangtuanya, agar anaknya diperbolehkan dibawa ke RS. Namun, orangtuanya tak memperbolehkan. “Gimana lagi, wong orangtuanya nggak memperbolehkan,” pungkasnya.(rif)