Dipasang Cip, 6 Komodo Dilepasliarkan di NTT

Surabaya, koranmemo.com – Pelepasliaran satwa jenis komodo atau bahasa latin Varanus Komodoensis oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BBKSDAE) Jawa Timur dilaksanakan pada Sabtu (13/7), sebanyak 6 ekor komodo hasil perdagangan ilegal.

Dari 6 ekor komodo tersebut sampai Jum’at (12/7), malam dalam keadaan sehat, dan akan di berangkatkan dari Bandara Juanda dengan tujuan ke Pulau Ontotole 17 Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kita adakan pelepasliaran 6 ekor hewan satwa dilindungi komodo relokasinya tersebut juga didampingi petugas dari Polisi Kehutanan (Polhut) BBKSDAE Jatim dan Personel dari Komodo Survival Progam (KSP). Pencegahan perdagangan ilegal satwa dilindungu6 merupakan suatu komitmen kita bersama dalam rangka menjaga kelestarian populasinya,” terang Direktur Jendral (Dirjen) KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ir. Wiranto, M.Sc saat diwawancarai awak media, Jum’at (12/7) sekitar pukul 20.14 WIB, malam.

Disampaikan Wiranto, komitmen k dalam rangka pencegahan perdagangan ilegal satwa dilindungi dapat terbukti saling berkerja sama dengan pihak Kepolisian yang telah mengungkap sindikat perdagangan illegal satwa jenis komodo.

“Kami apresiasi dan penghargaan kepada semua pihak atas keberhasilan menggagalkan sindikat perdagangan illegal tersebut yang berada di Wilayah Jawa Timur, hingga dari 6 (enam) ekor komodo yang masih keadaan sehat selama berada di kandang transit Balai Besar KSDAE Jawa Timur, sedangkan perkembangan proses secara hukum pidana telah diterapkan pada undang-undang No.5 tahun 1990 tentang KSDAE, yang ancaman hukumannya 10 tahun penjara, dengan denda Rp 100 juta dan saat ini sudah memasuki tahapan persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya,” ujarnya.

Kepala Balai Besar KSDAE Dr. Nandang Prihadi, S.Hut., M.Sc., menambahkan upaya penanganan satwa komodo yang diperdagangkan secara ilegal dikembalikan ke habitat asal menjadi prioritas utama, dari langkah awal yang akan dilakukan yaitu, uji Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) dengan tujuan agar mengetahui asal usul satwa komodo tersebut . “Iya kita lakukan uji DNA terlebih dahulu dengan secara hasil laboratorium genetika bidang zoologi, pusat penelitian biologi – LIPI,” kata Nandang Prihadi kepada koranmemo.com.

Hasil uji DNA, lanjutnya menunjukkan bahwa dari ke 6  ekor komodo tersebut semuanya berjenis kelamin betina dan dapat disimpulkan bahwa satwa dilindungi komodo yang diperdagangkan secara ilegal merupakan jenis yang berasal dari Flores Utara dan bukan dari Taman Satwa Nasional Komodo,” tuturnya kepada media ini.

Nandang menyebutkan pelepasliaran ke habitat pihaknya juga menyiapkan kandang habituasi yang mana terpasang alat deteksi yakni, cip. “Jadi, cip tersebut terpasang pada bawah kulit hewan satwa komodo, dengan tujuan untuk mengetahui gerak dan juga perkembangannya sedangkan, sisi medisnya pemasangan mikro cip ini tidak menggangu kesehatan pada hewan komodo,” tukasnya.

Reporter M. Fauzi

Editor Achmad Saichu