Dipaksa Mengaku Mencuri, Mantan Terpidana Mencari Keadilan

Share this :

Sidoarjo, koranmemo.com – Dua mantan terpidana kasus pencurian kotak amal di Masjid Al-Abror, di Desa Jedung Cangkring, Kec. Prambon Diki, (21) dan Ibad, (19) meminta keadilan atas amar putusan yang diberikan oleh Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo. Saat itu keduanya diputus oleh PN (inkracht) dengan hukuman kurungan penjara selama 6 bulan.

Berawal pada tanggal 20 Mei 2016 silam. Di desa tempat keduanya tinggal, yakni Desa Jedong Cangkring, Kec. Prambon, Sidoarjo telah terjadi pencurian ayam milik salah satu anggota Polisi setempat.

Saat itu, Vian dan Ibad diamankan. Menurut Ibad, dirinya dan Vian dituding telah melakukan aksi pencurian ayam milik anggota Polisi berinisial ‘STJ’.

Kemudian, keduanya digiring aparat kepolisian tersebut ke sebuah jalur kereta api (rel) di desa Prambon untuk diinterogasi.

” Saat itu saya dan Vian di interogasi oleh 4 orang. Saya disuruh mengaku telah melakukan pencurian kotak amal. Saya kaget, kenapa kok pencurian kotak amal ?. Padahal saya tidak tahu menahu, saat itu hanya disuruh jual ayam oleh Vian,” ujar Ibad salah satu mantan terpidana saat mengadu di kantor Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatu Ulama (LPBH NU) Sidoarjo, Jumat, (26/1/2018).

Karena adanya ancaman, lanjut Ibad, saya akhirnya terpaksa mengaku. Tidak lama kemudian, dirinya dan Vian dibawa ke Kantor Desa Jedong Cangkring, Prambon oleh oknum aparat kepolisian.

Kemudian, Diki, yang saat itu diduga merupakan sebagai salah satu pelaku pencurian juga turut dihadirkan. Dari keterangan Diki, dirinya juga dipaksa oleh aparat Polisi untuk mengakui perbuatannya yakni sebagai pencuri kotak amal masjid.

“Disana (kantor Desa Jedongcangkring) saya dengan disaksikan orang banyak dipaksa mengaku telah ikut mencuri kotak amal dengan Ibad. Setelah mengaku, saya dan Ibad langsung dibawa dan dijebloskan ke bui di Mapolsek Prambon,” paparnya yang saat itu didampingi Ngateni, ibu kandung Ibad.

Rendi, kakak Diki menambahkan, keduanya itu tidak pernah melakukan atas vonis mencuri kotak amal yang diputuskan Hakim PN Sidoarjo. Dalam kasus ini, keluarganya juga mencari keadilan dengan melaporkan aparat desanya bernama Suyitno ke Polda Jatim ” Berkasnya saat ini sudah di limpahkan ke Polresta Sidoarjo,” cetusnya.

Menurut Rendi, Suyitno dilaporkan atas dasar memberikan keterangan palsu, bahwa Suyitno melaporkan pada tanggal 20 Mei 2016 telah terjadi pencurian kotak amal yang kedua di Masjid Al Abror yang dilakukan Ibad dan adiknya. Padahal, imbuh Rendi, sesuai dengan keterangan tertulis dari Kepala Desa Jedongcangkring, Soedikman Pribadi tertanggal 9 Nopember 2016, di desanya tidak terjadi pencurian kotak amal dengan lokasi di Masjid Al Abror, Prambon.

“Dari kesaksian Suyitno, selaku aparat desa yang rumahnya tidak jauh dari masjid tersebut, mengaku ada pencurian kotak amal untuk kedua kalinya. Suyitno memberikan keterangan palsu, sehingga adik saya dan Ibad divonis bersalah oleh hakim yang menyidangkan,” tandas Rendy.

Rendi juga mengaku telah melakukan laporan ke Polisi sudah sejak bulan Desember 2016 lalu.

Bersama empat saksi lainnya, yakni Ngateni, Salamun, Ibad dan Hanafi, juga sudah dipanggil oleh Unit Pidana Umum Satreskrim Polresta Sidoarjo. Namun, hingga sekarang prosesnya tidak ada tindak lanjutnya.

“Sudah setahun lebih laporan saya masuk, tapi tidak ada kejelasan kasusnya. Terakhir saya konfirmasikan ke Unit Pidum, masih dalam penyelidikan,” papar Rendi kesal

Ketua LPBH NU H. S Makin Rahmat membenarkan adanya konsultasi yang dilakukan oleh keluarga Diki dan Ibad terkait kasuistik yang dinilainya menarik itu. Makin mengaku perkara ini sangat menarik karena melibatkan beberapa oknum dalam merekayasa kasus yang terjadi.

“Kedua keluarga itu konsultasi sebatas perkara yang dialaminya. Setiap warga negara berhak mencari dan mendapat keadilan. Jika sampai terjadi perlakuan yang tidak pernah dilakukan, tapi dituduhkan hingga diputuskan bersalah,” tegas Makin.

Perlu diketahui, Keduanya (Ibad dan Diki) divonis bersalah oleh hakim PN Sidoarjo dengan Hakim Ketua Erly Soelustyarini dan dua Hakim Anggota Eko Supriyono dan Yohanes Hero Sujaya dengan hukuman penjara 6 bulan pada 19 Oktober 2016.

Keduanya keluar atau bebas dari Lapas Kelas llA Delta Sidoarjo pada bulan Nopember 2016.

Sementara itu, Vian, yang saat itu diduga kuat sebagai pencuri ayam milik anggota polisi berinisial ‘STJ’ sampai saat ini menghilang. Dan, dari pengakuan kedua mantan terpidana tersebut, Vian tidak pernah mendapatkan penahanan seperti Diki dan Ibad.

Reporter: Yudhi Ardian

Editor: Achmad Saichu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.