Dinsos P3A : ODGJ Bukan Kutukan, Bisa Disembuhkan

Trenggalek, Koranmemo.com – Praktik pemasungan terhadap penderita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih terjadi di Trenggalek. Meskipun tak sepenuhnya dibenarkan, cara itu acap kali dianggap paling solutif oleh sebagian masyarakat. Padahal, cacat non fisik atau ODGJ itu dapat disembuhkan jika ditangani dengan benar. Kendati demikian untuk penyembuhan tersebut butuh waktu tidak sebentar dan kerja sama dari semua pihak termasuk keluarga pasien.

Kepala Seksi Disabilitas Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Trenggalek, Sri Winarti mengatakan, penyembuhan pasien ODGJ tergantung tingkat keparahan pasien. Meskipun demikian ia menyebut ODGJ dapat disembuhkan meskipun tanpa ketergantungan obat. “Bisa juga nantinya tanpa obat, sembuh total. Jadi ODGJ itu penyakit yang bisa disembuhkan,” ujarnya, Selasa (3/9).Ia mengakui praktik pasung memang menjadi langkah yang dianggap paling solutif bagi masyarakat. Pertimbangannya adalah faktor keamanan dan kenyamanan lingkungan. Data yang dihimpun, di Trenggalek masih ada tiga ODGJ yang masih di pasung. “Memang karena keterbatasan sarana prasarana dan juga tenaga penanganannya bertahap. Kemarin ada satu pasien warga Kecamatan Suruh yang dibebaskan,” kata dia.

Selain dinilai paling efektif, sebelumnya masyarakat juga bingung soal penanganan jika ada pasien ODGJ. Ia mendorong kepada masyarakat untuk melaporkan kepada pemerintah jika ada pasien ODGJ. “Mungkin dulu terbentur biaya sehingga memilih untuk dipasung, selain pertimbangan lainnya meskipun itu melanggar (HAM). Sekarang pengobatan dibiayai pemerintah dan kita sudah ada fasilitasnya,” ujarnya.

Meskipun masih ada praktik pemasungan, dia mengklaim jumlahnya berkurang. Ini karena masyarakat mulai sadar dan mengubah penilaian tentang ODGJ. Sebelumnya sebagian masyarakat menilai ODGJ adalah buah dari perbuatan atau kutukan. “Itu mitos. Sekarang masyarakat sudah mulai sadar dan tidak malu untuk mengobatinya. Alhamdulillah banyak juga yang sembuh, meskipun ada dua orang meninggal dunia. Namun itu (terjadi) diluar pengobatan,” ujarnya.

Pihaknya menargetkan tahun ini sebanyak tiga ODGJ itu terbebas pasung. Target itu sesuai dengan wacana Indonesia bebas pasung pada 2019. Terhitung sejak 2017 sebanyak 150 ODGJ telah dibebaskan dari pemasungan. “Kita berikan edukasi dan penyuluhan agar harapannya masyarakat menjadi mengerti. ODGJ itu bukan sebuah kutukan, itu mitos. Itu penyakit yang bisa disembuhkan,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetiya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date