Dinkes Surabaya Sebut 8 PSK Stasiun Wonokromo Positif Terindikasi Idap HIV

Share this :

Surabaya, koranmemo.com – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita menyebut ada 8 PSK (Pekerja Seks Komersial) yang biasa mangkal di Stasiun KA (Kereta Api) Wonokromo positif terindikasi penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Kasus ini terungkap ketika diadakan operasi gabungan yang digelar di Stasiun KA Wonokromo pada Minggu (19/5) dini hari yang berhasil menjaring 14 orang wanita pekerja seks komersial (PSK). Dari 14 PSK terjaring razia kemarin itu, pihaknya langsung melakukan pemeriksaan tes urine dilokasi dan hasilnya, ada 8 orang wanita PSK yang positif terjangkit penyakit HIV.

“Rata-rata ya dari mereka itu mayoritas dari luar Kota Surabaya, yaitu daerah Kediri, Tulungagung, Gresik, Malang dan Nganjuk itupun dengan usianya sekitar di atas 30 tahunan,” ujar Kadinkes Kota Surabaya, Febria saat dikonfirmasi melalui selulernya, Selasa (21/5).

Pihaknya sangat menyesalkan dengan adanya seperti ini dan untuk mereka saat ini sudah ditempatkan pada Liponsos Keputih dan telah mendapat keterampilan pembinaan khusus dan pengobatan berupa, Acute Retroviral Syndrome (ARV).

“Kita masih melihat perkembangan terlebih dahulu untuk sebelum nantinya mereka kita pulangkan ke daerah asalnya masing-masing mudah-mudahan jangan sampai ada lagi kasus yang seperti ini,” terang kepada koranmemo.com.

Feni sapaan akrabnya menyampaikan, akan terus gencar melakukan penyuluhan dan pemeriksaan ke beberapa sekolah, bahkan pada tempat hiburan malam. Dengan itu masyarakat akan sadar dan mendapat edukasi tentang bahayanya penyebaran virus HIV tersebut.

“Jadi begini, kita akan selalu melakukan penyuluhan ke tempat sekolah, baik sekolah tingkat Sekolah Dasar (SD), dan SMP, hingga SMA serta lintas sektoral lalu ke beberapa tempat hiburan malam, kalau dari tim pengawasnya ada dari Dinkes, dan LSM serta KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia),” tutur Febria Rachmanita.

Ditambahkan, pihaknya memastikan Pemkot Surabaya bersama jajaran samping juga akan rutin melakukan razia ke tempat hiburan malam. Tujuan razia ini dilakukan rutin setiap 3 bulan sekali untuk memberi pemahaman edukasi kepada masyarakat tentang bahaya penyebaran virus.

“Kita selalu saja mengadakan razia itu langsung kita periksa tes urine di tempat. Dari situ baru lah setelah jika ada yang terindikasi positif HIV, maka akan kita bawa ke Liponsos,” jelasnya.

Febria mengungkapkan, penularan pada virus HIV bisa melalui beberapa faktor yang diantaranya melalui jarum suntik, free sex, dan hubungan sesama jenis. Namun, jika hanya sekedar bersentuhan tangan dengan orang yang pengidap HIV tersebut, menurutnya tidak akan tertular dong.

Dikatakan, obat ARV tidak bisa menyembuhkan pengidap HIV/AIDS, namun bisa menekan perkembangbiakan virus, sehingga usia harapan hidup bisa di perpanjang.

“Maka, jangan sungkan-sungkan untuk berobat serta berkoordinasi dengan puskesmas setempat, sampai terima PMT (Pemberian Makanan Tambahan), itu berupa susu, karena imunnya sudah menurun,” imbuhnya.

Pihaknya mengimbau ke masyarakat yang telah terjangkit virus HIV/AIDS agar segera melakukan pengobatan secara rutin ke puskesmas atau rumah sakit setempat yang memberikan layanan bagi pengidap virus tersebut. Di Surabaya terdapat 63 puskesmas yang siap melayani pemeriksaan dan diagnosa virus HIV. Sementara, jumlah yang melayani pengobatan HIV ada 10 puskesmas, yakni Puskesmas Sememi, Putat Dupak, Perak Timur, Kedurus, Kedungdoro Jagir, Keputih, Tanah Kali Kedinding, dan Kali Rungkut.

“Kalau yang melayani pengobatan HIV itu ada sebanyak 9 rumah sakit masing-masing adalah, RS. Dr. Soetomo, RS. Bhakti Darma Husada (BDH), RSM Unair, RSAL (Rumah Sakit Angkatan Laut), RS. Soewandi, RS. Bhayangkara, RS Haji, dan RS Jiwa Menur,” pungkas Febria.

Reporter M Fauzi
Editor Achmad Saichu