Diknas Beri Kebebasan Sekolah untuk Lima atau Enam Hari Sekolah

Blitar,koranmemo.com – Sesuai dengan Peraturan Presiden (PP) nomor nomor 87 tahun 2017 setiap sekolah diberi kebebasan untuk memilih lima hari sekolah atau enam hari sekolah. Menindaklanjuti adanya PP ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar memberikan kebebasan pada Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Blitar untuk memilih model yang lima hari sekolah atau enam hari sekolah.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Dibyanto, Spd, MSi mengatakan, untuk memberlakukan PP tersebut, harus mendapatkan persetujuan dari masyarakat atau wali murid dan komite sekolah. Bila wali murid dan komite sekolah tidak menyetujuinya, maka pihak sekolah tidak dapat memaksakan untuk melaksanakan lima hari sekolah atau enam hari sekolah.

Dibyanto meminta, pihak sekolah yang akan  melaksanakan lima hari sekolah mempertimbangakan lingkungan sekitar, misalnya pondok pesantren yang ada di sekitar sekolah. Sebab, lima hari sekolah, akan menambah jam belajar siswa di sekolah, sehingga pulangnya lebih sore dibandingkan enam hari sekokah.

“Lima hari sekolah itu bukan full day ya, jadi beda,” tegas Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar,  Dibyanto, Spd, Msi, Selasa (21/02).

Ia tidak ingin, kegiatan belajar mengajar lima hari sekolah nanti mengganggu kegiatan madrasah diniyah siswa yang sudah terbiasa terbentuk di masyarakat. Menurutnya, sekolah umum dan madrasah diniyah sama-sama pentingnya, sehingga tidak boleh berbenturan.

“Jangan sampai madin-nya terganggu, karena siswa terlalu lama belajar di sekolah hingga pukul 3 atau 4  sore, sehingga siswa sudah capek tidak berkonsentrasi lagi untuk belajar agama. Kalau lima hari sekolah, ya pulangnya jam 2.00 WIB, supaya masih dapat belajar mengaji di rumah ,” ujarnya.

Dibyanto menjelaskan, pendidikan lima hari dan enam hari sekolah, sama-sama baiknya. Bila lima lima hari sekolah, maka untuk hari Sabtu bisa digunakan untuk pendidikan karakter anak di dalam keluarga. “Lima hari sekolah pada hari Sabtu anak bisa membantu orang tua untuk bersih-bersih, belajar memasak, dan lain sebagainya. Ini kelebihan lima hari sekolah,” tegasnya.

Kelebihan kedua, dengan lima hari sekolah di sekolah-sekolah diajarkan pendidikan karakter yang lebih padat di dalam sekolah. Untuk hari Sabtu, nanti siswa dapat menggunakan untuk belajar ektra kurikuler, sehingga siswa dapat membentuk karakter sesuai bidang yang ia minati, seperti pemain bola, atau Pramuka,” terangnya.

Lanjut Dibyanto, jika nanti di suatu daerah ada dua sekokah yang berbeda, maka tidak harus sama untuk melaksanakan lima hari sekolah atau enam hari sekolah. Ia memberi kebebasan pada sekolah untuk memilih, asalkan mendapatkan persetujuan dari warga masyarakat, wali murid dan juga komite sekolah. Bahkan, ia juga meminta pada guru untuk fleksibel, tidak harus memaksakan lima hari sekolah atau enam hari sekolah. Menurtnya, jam mengajar atara lima hari dan enam hari sekolah akan tetap sama dalam setiap minggunya. (adv/diknas)

Reporter: M Robby/Arief JP

Editor: Achmad Saichu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.