Diduga Candi Tempat Peribadatan Kerajaan, Ekskavasi Penemuan Purbakala di Gedog Awal Oktober

Blitar, koranmemo.com – Benda-benda purbakala yang ditemukan di Kelurahan Gedog Kecamatan Sananwetan Kota Blitar menunjukkan ada cagar budaya yang harus dilindungi. Benda mirip Yoni dengan cerat naga diperkirakan tempat itu adalah kawasan peribadatan kerajaan pada zaman dahulu. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan Mojokerto memastikan mulai awal Oktober tahun ini akan dilakukan ekskavasi di tempat penemuan tersebut.

Arkeolog BPCB Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, sudah mendapatkan lampu hijau dari pimpinan BPCB Jatim. Demikian, tidak lama lagi ekskavasi di Kelurahan Gedog Kota Blitar akan dilaksanakan.

“Kita pastikan paling cepat awal Oktober. Untuk bulan ini tidak mungkin dilakukan karena tim masih fokus ekskavasi di Jombang, dan Bondowoso sesuai jadwal selesai akhir September ini,” ujarnya saat dihubungi melalui telpon seluler, Minggu (8/9).

Wicaksono menjelaskan, pada tahap pertama ekskavasi nanti BPCB melakukan survei penyelamatan selama lima hari. Survei penyelamatan lima hari ini juga bisa disebut proses ekskavasi dalam waktu singkat. “Awal Oktober nanti kami melakukan ekskavasi singkat selama lima hari. Termasuk memperjelas aspek kepemilikan tanah di lokasi. Karena sebagian tanah itu milik desa kami bisa segera melakukan ekskavasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, BPCB bisa melakukan ekskavasi dalam durasi panjang sekitar 10 sampai 12 hari jika dalam survei penyelamatan ditemukan potensi cagar budaya yang cukup tinggi. Tujuannya untuk mengungkap lebih dalam dan lebih luas dari potensi kepurbakalaan di lokasi. “Kalau tahapan itu sudah dilakukan baru dirumuskan soal pemugaran, pemeliharaan, dan pemanfaatan temuan di lokasi nanti bagaimana,” jelas Wicaksono.

Sementara, terkait temuan benda purbakala baru oleh warga seperti relief perempuan, dan yoni itu bisa menunjukkan jika di Gedog ada cagar budaya yang harus segera dilindungi. Terkait Yoni sendiri, Wicaksono melihat, benda itu menunjukkan kawasan tersebut dulunya adalah tempat peribadatan kerajaan.

“Candi yang dipakai untuk tempat peribadatan ada tingkatannya, ada kelas kerajaan dan kelas di bawahnya. Kalau yang ada yoni dewa naga biasanya tempat peribadatan kelas kerajaan. Dilihat, gambar yoni yang dikirimkan oleh warga itu ada cerat naganya, jadi bisa saja dulunya di Gedog itu tempat peribadatan kerajaan,” terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pertama kali warga menemukan Arca Kala di pematang ladang warga. Selang beberapa hari, berjarak 200 meter dari tempat penemuan awal warga menemukan benda menyerupai fragmen candi. Selain itu, warga kembali menemukan batu seperti lumpang yang mengarah pada bentuk yoni zaman kerajaan, sebilah batu kuno, dan batu dengan relief dua perempuan. Benda – benda itu ditemukan sekitar 400 meter dari penemuan benda pertama.¬† “Dugaan kami, di lokasi itu ada kompleks bangunan percandian. Jadi ada bangunan utama, ada bangunan pendukung lainnya, dan pagar keliling,” ujar Wicaksono.

Wicaksono menduga, bangunan kompleks percandian itu runtuh sehingga komponen bangunan percandian tercerai berai. Komponen bangunan candi kemungkinan ada yang terbawa air atau dipindah manusia. Apalagi, posisi lahan tempat penemuan yang diduga kompleks bangunan percandian, merupakan lahan produktif yang masih aktif digarap warga secara turun temurun. “Tapi, kami menduga kuat temuan baru benda-benda itu masih ada kaitannya dengan situs kompleks percandian di lokasi,” pungkasnya.

Reporter Zayyin Multazam Sukri

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date