Perempuan Diajak Meningkatkan Ketahanan Keluarga

Nganjuk, koranmemo.com – Di hari kedua pembinaan organisasi perempuan, Rabu (30/9), Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Nganjuk, Yuni Sophia memberikan materi kepada peserta yang hadir. Acara tersebut diikuti oleh anggota dari organisasi-organisasi wanita di Nganjuk. Dalam kesempatan tersebut Yuni memberi materi pendidikan keluarga responsif gender sebagai upaya peningkatan ketahanan keluarga nasional.

Beliau menjelaskan, gender dapat diartikan sebagai perbedaan peran, fungsi, status, dan tanggung jawab pada laki-laki dan perempuan, sebagai bentukan sosial budaya, yang tertanam lewat sosialisasi dari satu generasi ke generasi. Sedangkan pendidikan keluarga responsif gender adalah kegiatan yang dilakukan untuk memberikan pengetahuan, wawasan dan pemahaman tentang hak dan kewajiban serta peran, kedudukan, tugas, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender dalam keluarga.

Istri Bupati Nganjuk tersebut juga mengatakan, ada beragam isu gender di masa pandemi Covid-19 ini. Diantaranya kurang lebih 22 persen anak melihat konten yang tidak sesuai melalui gawai. Setiap hari terdapat kurang lebih 100 anak terpapar Covid-19. Peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan sekitar 75 persen, juga penurunan jumlah peserta KB aktif maupun peserta KB baru yang ingin mendapatkan pelayanan keluarga berencana.

Selain masalah-masalah tersebut, terdapat kurang lebih 13 juta kasus perkawinan usia dini. Kasus perceraian meningkat sebanyak 53 ribu kasus. Lebih dari 3,5 juta pekerja terkena PHK dan terdapat kurang lebih 900 kasus kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak. “Hal ini membuat ketahanan keluarga menjadi lemah, dan kita harus bisa mengupayakan agar ketahanan keluarga meningkat,” kata ibu empat anak tersebut.

Baca Juga: Oshika Maba Unisma 2020, Rektor Tekankan Sikap Kritis

Baca Juga: Pascapencegahan, Tim Paslon Bupati Blitar Klarifikasi ke Bawaslu

Tidak hanya memaparkan isu gender, dia juga memberikan tips untuk menguatkan ketahanan keluarga di masa pandemi Covid-19 ini. Yakni dengan menyegarkan, memperbaharui, reorientasi nilai, tujuan, makna, dan ikatan keluarga, meningkatkan fungsi agama dan pribadi yang religius, meningkatkan komunikasi dan interaksi dalam keluarga, mendorong ekspresi saling peduli, menjaga dan melindungi keluarga agar tidak terpapar Covid-19.

“Perlu diingat, mengatur ulang pengelolaan sumberdaya keluarga (waktu, finansial, ilmu, dan perhatian), memelihara dan meningkatkan kesehatan keluarga, hal itu sangat penting. Selain itu, kita perlu meningkatkan ketahanan keluarga saat pandemi dengan pembagian peran dan fungsi keluarga yang baik,” jelas Yuni.

Reporter : Inna Dewi Fatimah

Editor : Muji Hartono