Di Balik Kentalnya Nuansa Khas Keraton Yogyakarta pada Peringatan Hari Jadi ke 825 Trenggalek

Trenggalek, Koranmemo.com – Nuansa khas Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat begitu kental dalam peringatan hari jadi ke 825 Trenggalek, Sabtu (31/8). Momentum ini diisyaratkan sebagai simbol kebangkitan Poros Selatan Pulau Jawa, Poros Jogja-Trenggalek. Dua daerah itu bakal terkoneksi dengan adanya pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) sehingga mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengatakan, Poros Jogja-Trenggalek bakal segera terwujud dengan adanya pembangunan JLS. Tahun ini Pemkab Trenggalek membangun jalan di pesisir selatan yang menghubungkan Kecamatan Prigi, Munjungan hingga Panggul. Jalan baru itu menyambut rencana pembangunan JLS penghubung Tulungagung-Prigi.

“Pada hari jadi ini kami kerja sama dengan Pemerintah Yogyakarta, dalam hal ini Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Awal atau pembuka bagi kemajuan ekonomi di wilayah Selatan Jawa, khususnya Trenggalek. Ini pertanda nasional Poros Jogja-Prigi-Malang lewat selatan Jawa berjalan dengan baik. Karena Trenggalek sudah punya kerja sama konkret dengan Jogja,” kata Mas Ipin.

Mas Ipin menyebut pendekatan yang sudah dilakukan adalah melalui bidang sejarah dan budaya. Selain dua kerja sama dua bidang itu, kerja sama Trenggalek-Yogyakarta bakal merambah pada sektor lainnya. Sebab sejarah dua daerah itu memiliki kesamaan. “Memang Panggul dan Sumbreng (sekarang Munjungan) termasuk wilayah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,” kata dia.

Karena memiliki kesamaan dalam sejarah, Mas Ipin menyebut peringatan hari jadi ke 825 Trenggalek dibuat kental nuansa keraton. Seperti pemakaian pakaian adat, bregada hingga kereta kencana yang langsung di datangkan dari keraton. Pemkab Trenggalek ingin ulang tahunnya menjadi simbol kebangkitan Poros Selatan Pulau Jawa.

Rangkaian kegiatan hari jadi ke 825 Trenggalek berlangsung sakral. Beberapa pusaka Trenggalek dijamas sebelum dikirab dari daerah Kamulan Durenan menuju Pendopo Manggala Praja Nugraha. Pasca prosesi acara, masyarakat berebut Tumpeng Agung yang sebelumnya turut dikirab. Tumpeng setinggi dua meter itu berisi hasil bumi, pupuk, hingga air yang diambil dari 14 sumber.

Pupuk yang dibagikan kepada warga pasca perebutan tumpeng disimbolkan  agar petani tidak mengalami gagal panen. Hampir 60 persen masyarakat Trenggalek bermata pencaharian di sektor pertanian. “Tumpeng agung menandakan ketahanan pangan. Sementara air merupakan simbol dan harapan masyarakat Trenggalek agar tidak lagi kekeringan,” pungkasnya.

Rangkaian kegiatan ini selalu menyedot perhatian pengunjung. Kondisi ini terlihat diantaranya saat warga memperebutkan tumpeng yang diyakini bakal memperolah keberkahan. Hanya dalam hitungan menit tumpeng tersebut ludes di perebutkan warga. “Saya selalu ikut berebut tumpeng disini, ingin mendapat keberkahan. Semoga kedepannya lebih baik lagi,” kata Ngatini usai berebut tumpeng.

Reporter Angga Prasetiya
Editor Achmad Saichu

 

Follow Untuk Berita Up to Date