Debu Pabrik Pemecah Batu di Nganjuk Resahkan Masyarakat

Share this :

Nganjuk, koranmemo.com – Debu yang timbul dari aktivitas pabrik pemecah batu di Jalan Raya Bagor, Desa Ngudikan, Kecamatan Bagor meresahkan warga sekitar.  Di seberang pabrik terlihat rumah makan dalam keadaan tutup dan rumah-rumah warga yang terlihat kotor. Sumaji (44), warga desa setempat mengatakan, warga sekitar resah dengan keberadaan pabrik pemecah batu tersebut. Pasalnya, debu yang dihasilkan dari aktivitas pabrik membuat rumah mereka selalu kotor, walaupun sudah dibersihkan berkali-kali.

Sumaji mengatakan, dampak aktivitas pabrik pemecah batu tidak hanya pada kebersihan lingkungan akan tetapi juga menyangkut kesehatan. Setiap hari mereka harus menghirup udara bercampur debu. “Kalau soal rumah kotor karena debu masih bisa disapu. Bagaimana dengan kesehatan kami?” keluhnya, Senin (7/9).

Keluhan serupa juga disampaikan Wijaya (20), anak pemilik usaha rumah makan yang berseberangan dengan pabrik. Wijaya mengaku, para pelayan di rumah makannya bisa membersihkan rumah makan sekaligus rumah yang ia tempati berkali-kali dalam satu hari.

“Setelah saya bersihkan, debu dari pabrik tertiup angin dan mengarah ke warung dan rumah saya,” kata Wijaya sambil menunjukkan peralatan dan lantai-lantai yang dipenuhi debu, padahal dia mengaku baru membersihkannya tadi pagi.

Sebelumnya, dari pihak warga sudah mengusahakan banyak hal supaya ada tindak lanjut dari pemerintah daerah. Di antaranya, pada tahun 2019, Sumaji bersama beberapa warga terdampak sudah mendatangi kepala desa supaya aspirasinya disampaikan kepada pemerintah daerah. Namun usahanya tidak berbuah hasil. Sumaji mengaku tidak ada tindak lanjut dari perangkat desa.

Sampai beberapa waktu lalu, pemilik akun twitter bernama @putrisila77, yang tidak lain adalah putri pemilik usaha rumah makan yang lokasinya berseberangan dengan pabrik juga mengungkapkan pendapatnya kepada pemerintah melalui akun yang dia miliki.

Baca Juga: Siswa SMAN 3 Jombang Mulai Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka

Dalam postingan yang sempat viral tersebut, Putri Silia, nama aslinya mengaku sudah pernah melakukan pengaduan perihal kasus ini kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nganjuk sejak tahun lalu. Tepatnya pada tanggal 31-10-2019, melalui sebuah surat yang berisi pengaduan pencemaran lingkungan berupa polusi udara debu batu akibat aktivitas pabrik pemecah batu. Saat itu, pabrik baru beroperasi selama satu tahun.

Namun setelah pengaduan yang dilayangkan, tidak ada tindak lanjut secara nyata dari pihak dinas terkait. “Saya hanya dikirimi foto saat mereka rapat. Rapatnya sih katanya membahas pengaduan saya,” kata Putri saat dikonfirmasi via whatsapp.

Sejak pengiriman foto yang dilakukan oleh pihak dinas kepada Putri, selanjutnya tidak ada tindakan lagi sampai saat ini.

Baca Juga: Penemuan Kerangka Diduga Kepala Macan Tutul

Baca Juga: Ortu Bayi “Tertukar” Gugat RSUD Nganjuk Rp 5 M

Putri juga menjelaskan, sejak dibangunnya pabrik warga hanya mendapatkan informasi jika lokasi tersebut akan dibangun perumahan. Ternyata seiring berjalannya waktu, lokasi yang katanya akan dibangun perumahan tersebut berubah menjadi pabrik pemecah batu. “Memang saat ini saya tidak tinggal di sana dan hanya rumah makan keluarga saya. Tapi bagaimana nasib tetangga saya yang ada di sekitar pabrik?” ujar Putri.

Terpisah, Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nganjuk, Subani mengatakan, timnya akan melakukan tindakan. Secepatnya, dari Satpol PP dan tim perizinan pendirian pabrik akan mengkondisikan keadaan pabrik. “Nantinya akan ada penambahan untuk keamanan pabrik,” ujar Bani. 

Reporter: Inna Dewi Fatimah

Editor: Della Cahaya